Sunday, April 21, 2019

Pendidikan Berwawasan Kebangsaan Pada Era Industri 4.0: Tinjauan Kesejarahan, Kekinian, dan Masa Depan.


 Seminar Nasional “Pendidikan Berwawasan Kebangsaan Pada Era Industri 4.0: Tinjauan Kesejarahan, Kekinian, dan Masa Depan.”
Seminar yang dinarasumberi oleh Prof.Dr.Hariyono,M.Pd, selaku Plt Kepala Badan Pembinaan Idiologi Pancasila serta Rektor UINSA yaitu Prof.Masdar Hilmy,M.A.,Ph.D. ini sangat menarik dan sangat bermanfaat sekali bagi generasi milenial dalam menghadapi era industri 4.0. Dijelaskan bahwa dalam era ini, generasi muda haruslah mempunyai karakter pancasila dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila secara etimologi merupakan suatu landasan dalam semua bidang terutama pendidikan. Pendidikan pancasila hakikatnya adalah membentuk karakter bangsa sesuai dengan kelima sila pancasila. Sebagai generasi milenial, generasi z, dan generasi penerus bangsa, mahasiswa saat ini perlu berhati-hati dalam menyikapi berbagai bentuk pengaruh ideology dari luar negeri. Indonesia yang telah merdeka sejak 1945, telah menjadikan pancasila sebagai suatu ideology nasional yang benar-benar besar sekali pengaruhnya jika diterapkan dengan sungguh-sungguh.
sumber: google.com

Dalam revolusi industri 4.0 ini, mahasiswa harus tanggap mengambil peluang dan berani mengambil tantangan untuk bisa bergerak lebih maju. Sebagai generasi milenial yang diimbangi dengan berbagai kecanggihan teknologi seperti saat ini, mahasiswa harus bisa menciptakan berbagai inovasi guna menunjang kesejahteraan. Dalam era ini, mahasiswa dituntut untuk aktif bertindak mengambil bagian dari hingar binger keluwesan pertukaran informasi dan kecanggihan berbagai teknologi yang semakin hari semakin mencengangkan. Pada era yang super cepat dan canggih seperti sekarang, sering menimbulkan ketakutan bagi beberapa pihak, bahwa suatu hari nanti banyak pekerjaan manusia yang akhirnya digantikan oleh mesin  atau robot. Dalam menyikapi hal ini, kita tidak bisa hanya ‘pasrah’ dan menyerah atau mengikuti arus. Mahasiswa yang cerdas dan berkarakter pancasila diharapkan dapat berperan serta menjadi contributor membanggakan yang bisa mengharumkan nama negara melalui berbagai bakat yang terolah menjadi prestasi.

Wednesday, March 6, 2019

Pembinaan Anak yang Kecanduan Game Online


Pembinaan Anak yang Kecanduan Game Online

Oleh : Erviana
Seiring perkembangan zaman, kehidupan kita tak lepas dari yang namanya internet. Selain sebagai media penyalur informasi, internet juga mempunyai peran sebagai media hiburan, contohnya game online sebagai produknya. Game online sendiri banyak diminati dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Di samping fungsinya sebagai media untuk refreshing, game online berdampak pada psikologis penggunanya, terutama bagi anak anak.

Add caption
Game adalah sebentuk karya seni di mana peserta, yang disebut Pemain, membuat keputusan untuk mengelola sumberdaya yang dimilikinya melalui benda di dalam game demi mencapai tujuan. Sedangkan Online adalah terhubung, terkoneksi, aktif dan siap untuk operasi, dapat berkomunikasi dengan atau dikontrol oleh komputer. Online ini juga bisa diartikan sebagai suatu keadaan di mana sebuah device (komputer) terhubung dengan device lain, biasanya melalu modem. Menurut Poetoe (2012), Game online adalah game yang bersifat dunia maya dan biasanya dimainkan di dalam PC/laptop serta menggunakan media internet sehingga user dari berbeda tempatpun bisa bermain bersama dalam satu waktu dan permainan yang sama. Game online saat ini sangat menjamur di masyarakat apalagi di kalangan remaja dan anak-anak. Pengaruh globalisasi ini sangat cepat menyerang anak-anak yang sedang berada pada masa bermain, yang menjadi masalah pada pembahasan ini adalah bukan tentang game online nya namun yang menjadi masalah adalah ketergantungan pada aktivitasnge-games ini bagi sebagian anak, games online memiliki sifat adiktif atau candu sehingga waktu anak banyak dihabiskan untuk bermain game-online. Menurut Hapsari (2014) Fenomena game online ini muncul sejak tahun 2000-an, namun sepertinya pada tahun inilah merupakan puncak dari fenomena game online tersebut. Ada banyak jenis permainan yang ditawarkan di game online, contohnya adalah AyoDance, Dot.A, Ragnarok, Yulgang, Street Dance, Counter Strike, Point Blank, dan masih banyak yang lainnya.

KEINGINAN ORANGTUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK

Parenting Dalam Pendidikan Anak

Erviana
Universitas Negeri Malang
E-mail: jasminerviana@gmail.com


Abstrak: Setiap orangtua mendambakan memiliki anak yang pintar, berprestasi, dan berakhlak mulia. Keinginan setiap orangtua tersebut diimplementasikan melalui aspirasi dan partisipasi. Pendidikan selain merupakan kebutuhan primer bagi anak yang harus dipenuhi setiap orangtua, pendidikan juga merupakan sarana bagi anak dalam menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki anak. Pada proses tersebut peran orangtua terutama dalam lingkungan keluarga sangat penting dalam mendidik dan membimbing anak dalam rangka mencapai keberhasilan anak.

Kata kunci: pendidikan anak, lingkungan keluarga, aspirasi dan partisipasi orangtua, peran orangtua

Pendidikan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kepribadian anak menjadi individu yang berhasil dalam rangka mencapai cita-cita maupun memenuhi harapan atau keinginan setiap orangtua. Namun, banyak orangtua yang sekadar memberikan pendidikan secara formal melalui lembaga pendidikan tanpa memerhatikan kebutuhan pendidikan anak dalam lingkungan keluarga, sehingga banyak anak berprestasi dalam bidang akademik namun akhlaknya tidak cukup baik, bahkan ada beberapa anak yang tidak pandai dalam bidang akademik dan tidak pula berakhlak mulia. Hal tersebut tentu saja tidak dapat dibiarkan, mengingat peran orangtua adalah memberikan pendidikan terhadap anak secara seimbang antara ilmu dan akhlak agar anak dapat menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal.

BAHASAN
Anak adalah investasi masa depan orangtua, sehingga anak harus memiliki kompetensi dan kepribadian yang baik. Orangtua yang baik tentu akan mengusahakan segala keperluan anak dalam rangka memberikan bantuan terhadap anak untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin agar menjadi manusia yang bertanggung jawab (Idris,1998:10).
Pendidikan menjadi hal utama yang dirasa mampu menjadikan anak berhasil memenuhi keinginan orangtua atau cita-cita anak. Pendidikan anak dimulai dari pendidikan keluarga yang dilakukan oleh orangtua. Pendidikan yang diberikan orangtua pada anak menurut  Mulyono (2003:15) terdiri dari empat unsur utama, yaitu penjelasan terhadap fitrah, penumbuhan potensi dan menyimpan seluruhnya, pengarahan fitrah dan potensi tersebut untuk kebaikan, dan kesehatan yang sesuai dengannya dan penataan dalam amaliah pendidikan. Dari uraian tersebut diperkuat dengan pendapat Sina (1978:35) bahwa pada diri anak harus ditanamkan nilai-nilai yang baik karena anak sejak lahir telah membawa potensi dan bakat yang harus diarahkan kepada hal-hal baik.
Comenius (1592-1670) adalah seorang ahli didaktik terkenal mengemukakan betapa pentingnya pendidikan keluarga bagi anak-anak. Perkembangan anak yang sekalipun dilahirkan secara normal dan memiliki potensi bawaan yang bagus, seandainya dalam pertumbuhan dan perekembangannya anak tersebut tidak memiliki hambatan, tetap saja anak masih memerlukan berbagai persyaratan tertentu serta pemeliharaan yang berkesinambungan agar dapat menjadi utuh atau berhasil mencapai tujuan. Persyaratan dan pemeliharaan tersebut secara utama merupakan kewajiban orangtua dalam mendukung pendidikan anak untuk berhasil. Dukungan tersebut sekaligus menjadi cerminan dari keinginan orangtua atas keberhasilan anak.
sumber : Google.com
Keinginan orangtua tidak akan terealisasi dengan baik pula apabila tidak diimplementasikan secara nyata. Implementasi keinginan orangtua terhadap pendidikan anak tersebut diwujudkan dalam dua hal, yaitu aspirasi dan partisipasi. Aspirasi merupakan harapan atau keinginan seseorang akan suatu keberhasilan atau prestasi tertentu (Slameto,2010:182). Aspirasi positif orangtua sangat diharapkan daripada aspirasi negatif lantaran aspirasi positif orangtua memiliki keinginan untuk terus tumbuh lebih tinggi daripada keadaan yang ada saat ini, sedangkan aspirasi negatif adalah sebaliknya. Aspirasi tentu membutuhkan partisipasi agar dapat mewujudkan keinginan yang sudah ada. Partisipasi orangtua dalam hal pendidikan anak diwujudkan melalui pola asuh yang diterapkan pada anak. Menurut Hurlock (1999:67) pola asuh orangtua kepada anak dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu pola asuh otoriter yang berarti orangtua menerapkan kedisiplinan dan menuntut prestasi tinggi pada anak, pola asuh permisif merupakan sikap orangtua yang demokratis dan penuh kasih sayang lalu menjadikan anak bersikap manja, dan pola asuh otoritatif merupakan sikap orangtua yang memegang kendali secara penuh pada anak dengan menuntut prestasi tinggi pada anak dan diimbangi dengan sikap demokratis serta kasih sayang yang tinggi pula. Dari uraian tersebut, pola asuh otoritatif adalah pola asuh yang diharapkan dapat dilakukan oleh setiap orangtua kepada anak, sebab pola asuh otoritatif menyeimbangkan antara kewajiban orangtua dengan hak anak. Pada pola asuh otoritatif orangtua memang bersikap keras, disiplin, dan secara ketat mengendalikan anak agar anak dapat fokus terhadap tujuan-tujuan yang telah ditentukan, namun orangtua juga bersikap bijak dengan tetap memberikan kesempatan pada anak untuk berpendapat. Pola asuh otoritatif akan mendorong terbentuknya sifat-sifat anak, seperti kerja keras, disiplin, berkomitmen, tidak mudah menyerah, selalu berprestasi, dan tetap lemah lembut dengan kasih sayang.
Beriringan dengan pola asuh di atas, langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam peranannya terhadap pendidikan anak, yaitu (1) orangtua sebagai panutan, (2) orangtua sebagai motivator anak, (2) orangtua sebagai cermin utama anak, (3) orangtua sebagai fasilitator anak. Adanya variasi peran orangtua akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak. Dampak positif tersebut akan menjadikan kepribadian anak menjadi lebih baik, sehingga dapat dijadikan sebagai modal meraih keberhasilan dalam prestasi belajar atau proses pendidikan. Adanya komunikasi yang baik antara orangtua dan anak, timbul saling pengertian, dan adanya keharmonisan dalam keluarga merupakan manfaat dari keseriusan orangtua membangun ‘image’ atau peran dalam mendidik anak.
PENUTUP
Simpulan
Anak adalah investasi masa depan orangtua, sehingga anak harus memiliki kompetensi dan kepribadian yang baik. Usaha untuk menjadikan anak berkompetensi dan berkepribadian baik dilakukan orangtua melalui pendidikan. Pendidikan yang diberikan oleh orangtua bagi anak dapat dikatakan harus mencakup seluruh aspek kemanusiaan, baik segi kejiwaan, fisik, intelektual, dan sosial. Pendidikan tidak boleh hanya menekankan pada satu segi saja kemudian mengabaikan aspek yang lain. Berbagai potensi dan kecenderungan fitrah perlu dikembangkan secara seimbang antara proses dan hasil menuju kondisi lebih baik. Hal tersebut merupakan hasil dari perwujudan aspirasi dan partisipasi orangtua dalam rangka mengimplementasikan keinginan orangtua terhadap pendidikan anak.
Orangtua dalam pendidikan anak tidak semata-mata hanya memberikan instruksi ataupun contoh. Orangtua memiliki peran besar dalam perkembangan anak dan pendidikan anak. Peran orangtua tersebut antara lain orangtua sebagai motivator, orangtua sebagai panutan, orangtua sebagai cermin utama anak, dan orangtua sebagai fasilitator.
Saran
Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh pendidikan pertama yaitu pendidikan dalam lingkungan keluarga, sehingga perlu dikombinasikan antara aspirasi positif orangtua dengan pola asuh otoritatif agar keharmonisan hubungan orangtua dengan anak dapat tercapai dan anak dapat mengembangkan bakat atau potensinya secara optimal karena adanya dukungan orangtua. Dukungan setiap orangtua memang berbeda-beda, namun setiap orangtua memiliki latar belakang keinginan yang sama terhadap pendidikan anaknya yaitu keinginan agar anak mendapatkan pendidikan dan sukses pada masa mendatang. Peran orangtua begitu banyak dalam mendampingi proses belajar anak, sehingga pengetahuan orangtua juga harus ditingkatkan. Pengetahuan orangtua yang didapat dari berbagai sumber akan memudahkan orangtua mengatasi permasalahan pendidikan anak terutama cara mengimplementasikan keinginan orangtua terhadap pendidikan anak secara tepat.

DAFTAR RUJUKAN
Hurlock, Elizabeth B. 1999. Perkembangan Anak.  Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Sina, Ibnu. Majalah Santunan. 1978. No. 24. Hlm. 35.
Idris, Zahar. 1998. Dasar-Dasar Pendidikan. Bandung: Angkasa Raya.
Mulyono, Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Implementasi Keinginan Orangtua Terhadap Pendidikan Anak


Implementasi Keinginan Orangtua Terhadap Pendidikan Anak
Oleh : Erviana

Kehidupan anak itu ibarat kertas putih yang siap digambari dengan apa saja. Baik dan buruknya perilaku anak bergantung pada cara orangtua mendidik anak. Setiap orangtua pasti mendambakan anaknya tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan kreatif. Hal tersebut juga menjadi bukti keberhasilan orangtua dalam mendidik anaknya. Keluarga sebagai satuan unit sosial terkecil merupakan lingkungan pendidikan yang paling utama dan pertama. Dalam arti, keluarga merupakan lingkungan yang paling bertanggungjawab mendidik anak-anaknya. Pendidikan yang diberikan orangtua seharusnya memberikan dasar bagi pendidikan, proses sosialisasi, dan kehidupan bermasyarakat.
Dalam hal ini, Rohinah (2009:9) menjelaskan peranan orangtua adalah tetap menjadi kelompok pertama (primary group) tempat meletakkan dasar kepribadian di dalam keluarga. Orangtua memegang peran membentuk sistem interaksi yang intim dan berlangsung lama ditandai oleh loyalitas pribadi, cinta kasih, dan hubungan yang penuh kasih sayang. Peran orangtua adalah dengan membenahi mental higeine anak. Terbentuknya kepribadian dan kreativitas anak merupakan modal bagi penyesuaan diri anak dan lingkungannya, dan tentunya memberikan dampak bagi kesejahteraan keluarga secara menyeluruh.

Peran Orangtua Terhadap Pendidikan Anak

Peran Orangtua Terhadap Pendidikan Anak

Oleh : Erviana

Orangtua merupakan orang pertama yang sangat besar peranannya dalam membina pendidikan anak, karena dari pendidikan itu akan menentukan masa depan anak. Peran dan upaya orangtua tersebut harus diperhatikan dengan baik sehingga kepribadian anak dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Upaya mendidik anak sebagai elemen yang membentuk keluarga, masyarakat dan bangsa merupakan hal yang harus dipersiapkan dan dilakukan oleh orangtua. Anak merupakan unit inti yang akan membentuk unsur pertama bagi kerangka umum pembangunan bangsa yang berkembang dan penuh toleransi.
pendidikan anak
Hubungan orangtua dan anak sangat mempengaruhi jiwa anak. Baik buruknya serta bertumbuh tidaknya mental anak sangat tergantung sama orangtua (Safri:1998:15). Dengan demikian jelaslah bahwa orangtua sangat berperan dalam perkembangan anak. Peranan orangtua sangat besar dalam membina, mendidik serta membesarkan si anak hingga menjadi dewasa. Orangtua merupakan orang pertama anak-anak belajar mendapatkan pendidikan, otomatis apa yang didapatkan anak pertama sekali semasa kecilnya akan membekas pada jiwa dan raganya di kemudian hari.
Apabila melihat peranan orangtua sebagai pendidik pertama bagi anak, maka tidak bisa dipisahkan dari peran seorang ibu. Karena ibulah sebagai pendidik yang utama dalam keluarga. Sebab sejak bayi dalam kandungan sampai bayi lahir menjadi balita dan menjadi anak-anak hingga ia dewasa, ibulah yang paling dekat dan paling sering bersama anak.

Monday, February 25, 2019

MANAJEMEN PERUBAHAN DALAM PENGOPTIMALAN PERAN SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN BAKAT DAN MINAT PESERTA DIDIK


MANAJEMEN PERUBAHAN DALAM PENGOPTIMALAN PERAN SEKOLAH UNTUK PENGEMBANGAN BAKAT DAN MINAT PESERTA DIDIK
Oleh : Erviana

Bakat dan minat peserta didik merupakan salah satu hal yang perlu pembinaan secara khusus untuk dikembangkan seoptimal mungkin. Dalam prosesnya, ada banyak pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tak langsung. Lalu seperti apa seharusnya peran sekolah dalam suatu manajemen perubahan dalam pelaksanaan pembinaan pengembangan bakat dan minat peserta didik ? Berikut diuraikan contoh kasus dan proses pengembangannya.
A.    Kasus
Pengembangan bakat dan minat bagi anak sangat penting, terutama oleh orangtua dan pihak sekolah. Sayangnya, terkadang karena berbagai faktor keduanya tidak dapat berperan optimal dalam pengembangan bakat dan minat anak. Hasilnya, banyak anak yang sekedar menjalani rutinitas tanpa antusiasme untuk berinovasi, hanya berorientasi pada how to get a job daripada how to make a job, kualitas dan kuantitas SDM dominan stagnan terkait variasi bakat dan minat yang berhasil dikembangkan secara professional.

Sunday, February 10, 2019

Manajemen Perubahan dalam Pendidikan


Perubahan yang terjadi dalam suatu organisasi merupakan salah satu bentuk dari adanya inovasi dalam bekerja. Tindakan-tindakan dalam manajemen perubahan berpedoman pada strategi-strategi manajemen yang telah dibuat sebelumnya. Bahkan sebelum menentukan strategi maupun tindakan seorang perancang perubahan haruslah mengetahui tahapan-tahapan dalam manajemen perubahan. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa hampir semua perubahan melewati beberapa tahapan. Setidaknya terdapat empat tahapan dalam manajemen perubahan yaitu : 1) mengidentifikasi perubahan. Seseorang haruslah mengetahui setiap perubahan yang akan terjadi atau yang akan dilakukan, artinya ia juga harus mengetahui berbagai kebutuhan perubahan dan mengidentifikasi tipe perubahan. 2) merencanakan perubahan. Diagnostik situasional tehnik, pemilihan berbagai strategi umum, serta pertimbangan atas faktor apa saja yang menjadi pendukung perubahan. 3) mengimpementasikan perubahan. Hasil dari identifikasi dan perencanaan perubahan pada tahap ini direalisasikan, sehingga perlu dilakukan pengawaasa pula. 4) mengevaluasi dan memberikan feedback. Hasil implementasi dievaluasi sehingga terkumpullah data yang dapat digunakan untuk bahan pertimbangan tahapan-tahapan perubahan sebelumnya di masa mendatang. Keseluruhan dari tahapan-tahapan tersebut akan diimplementasikan melaui tindakan perubahan yang dilakukan secara terstruktur.

Teknik-Teknik Humas Lembaga Pendidikan dan Masyarakat


A.    Teknik-teknik Hubungan Lembaga Pendidikan dan Masyarakat
Teknik hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang kebutuhan pendidikan serta untuk mendorong minat dan kerjasama para anggota masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah menurut Purwanto dalam Benty dan Gunawan (2015:88). Tanpa bantuan dari masyarakat sebuah lembaga pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik dan tanpa adanya program yang baik maka sebuah lembaga pendidikan akan gagal mencapai tujuannya. Oleh sebab itu penggunaan teknik-teknik dalam menjalin hubungan yang baik antara lembaga pendidikan dan masyarakat sangatlah diperlukan bukan hanya untuk kepentingan lembaga pendidikan itu sendiri melainkan juga akan sangat berguna untuk masyarakat.

Sunday, February 3, 2019

Substansi Manajemen Pendidikan Lebih Dari Sekedar 'Bagian'

Substansi Manajemen Pendidikan Lebih Dari Sekedar 'Bagian'

erviana/jasminerviana@gmail.com

Sumber : Google.com
Pengelolaan pendidikan dalam suatu lembaga pendidikan (sekolah) melibatkan beberapa substansi manajemen atau administrasi pendidikan. Manajemen keuangan, manajemen hubungan masyarakat, dan manajemen sarana dan prasarana. Setiap manajemen memiliki peran dan fungsin masing-masing, namun semuanya saling berkaitan satu sama lain dan memiliki pengaruh yang sama besar terhadap kemajuan sekolah dan pencapaian tujuan pendidikan yang optimal, tentu saja dalam proses pelaksanaan tanggungjawab setiap manajemen terdapat beberapa kendala atau hambatan yang mengakibatkan ketidaklancaran penyelenggaraan kegiatan manajemen. Perencanaan, pengorganisasian, penggerakan pemantauan, pengawasan, dan  penilaian merupakan fungsi-fungsi yang disematkan pada setiap manajemen agar dapat melaksanakan kegiatannya dengan baik.

Tantangan Menjadi Guru Di Era Milenial

Erviana/jasminerviana@gmail.com

sumber : Google.com
Pahlawan tanpa tanda jasa adalah penghormatan yang luar biasa untuk mereka yang berprofesi sebagai guru. Guru tidak hanya sekedar memberikan ilmu, tapi juga memberikan banyak sekali pelajaran hidup yang dapat membantu kita menjadi lebih baik dalam akademik maupun berkepribadian. Oleh karena itu, sudah sepantasnya guru mendapatkan apresiasi dalam peranannya menyukseskan tujuan pendidikan.
Di era milenial seperti saat ini, tantangan guru semakin besar. Guru dituntut untuk lebih terbuka dalam berfikir dan mengambil sikap terhadap segala perubahan lingkup pendidikan termasuk didalamnya adalah peserta didik. Peserta didik yang tergolong generasi z atau generasi milenial sangat jauh berbeda dengan generasi terdahulunya. Mereka memiliki kecenderungan ‘bebas’ dan ‘praktis’. Hal ini semakin bertentangan dengan kodrat peserta didik yang dididik untuk menjadi patuh, disiplin, dan taat pada segala peraturan termasuk perintah guru.  Jika dahulu tidak mengerjakan PR akan dihukum berdiri di depan kelas, sekarang guru harus memberikan alternative hukuman yang lebih edukatif. Jika hukuman berdiri di depan kelas itu dianggap salah satu hal yang akan membuat peserta didik kapok atau jera, maka itu salah. Hukuman seperti itu memang masih bisa diberlakukan tapi tidak memberikan dampak yang signifikann dalam mempengaruhi perilaku anak milenial. Dalam kasus ini, guru bisa ‘menghukum’ dengan menyuruh peserta didik tersebut untuk mengerjakan soal di depan kelas dan menjelaskan, jika ia tidak bisa guru bisa membantunya untuk membuka diskusi kelas bersama.

Thursday, January 24, 2019

Mengambil Peran dalam mewujudkan Indonesia Bersih


MEMBUAT INDONESIA BERSIH DENGAN TANGAN KREATIF

Erviana
Universitas Negeri Malang


Keindahan, kekayaan, dan keberagaman sumber daya alam di Indonesia sudah tidak diragukan lagi kebenarannya. Letak geografis yang strategis menunjukkan betapa kaya Indonesia akan sumber daya alam dengan segala flora, fauna dan potensi hidrografis dan deposit sumber alamnya yang melimpah. Sumber daya alam Indonesia berasal dari pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan, perkebunan serta pertambangan dan energi. Tak heran bila ada ungkapan “Gemah Ripah Loh Jinawi ” yang menggambarkan bumi Indonesia yang tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya.
Sebagai orang Indonesia tentu kita bangga bisa hidup di negara yang memiliki sedemikian banyak potensi alam yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan. Merawat dan melestarikan lingkungan tentu sudah menjadi kewajiban kita bersama agar tidak hanya kita, namun generasi masa mendatang juga dapat menikmati nikmat Tuhan yang diturunkan di tanah Indonesia.
Terkait hal tersebut, kita perlu merenungkan riset Jenna R Jambeck dan kawan-kawan (publikasi di www.sciencemag.org 12 Februari 2015) yang menyebutkan Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka. Hal tersebut didukung dengan adanya data dari KLHK (publikasi www.cnnindonesia.com Selasa, 23/02/2016 07:01 WIB) yang menyebut plastik hasil dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun saja, sudah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektare kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola. Padahal, KLHK menargetkan pengurangan sampah plastik lebih dari 1,9 juta ton hingga 2019. Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih menyebut total jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada. Menurutnya, target pengurangan timbunan sampah secara keseluruhan sampai dengan 2019 adalah 25 persen, sedangkan 75 persen penanganan sampahnya dengan cara 'composting' dan daur ulang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).