Implementasi Keinginan
Orangtua Terhadap Pendidikan Anak
Oleh : Erviana
Kehidupan anak itu ibarat kertas putih
yang siap digambari dengan apa saja. Baik dan buruknya perilaku anak bergantung
pada cara orangtua mendidik anak. Setiap orangtua pasti mendambakan anaknya tumbuh
menjadi anak yang sehat, cerdas, dan kreatif. Hal tersebut juga menjadi bukti
keberhasilan orangtua dalam mendidik anaknya. Keluarga sebagai satuan unit
sosial terkecil merupakan lingkungan pendidikan yang paling utama dan pertama.
Dalam arti, keluarga merupakan lingkungan yang paling bertanggungjawab mendidik
anak-anaknya. Pendidikan yang diberikan orangtua seharusnya memberikan dasar
bagi pendidikan, proses sosialisasi, dan kehidupan bermasyarakat.
Dalam hal ini, Rohinah (2009:9)
menjelaskan peranan orangtua adalah tetap menjadi kelompok pertama (primary group) tempat meletakkan dasar
kepribadian di dalam keluarga. Orangtua memegang peran membentuk sistem
interaksi yang intim dan berlangsung lama ditandai oleh loyalitas pribadi,
cinta kasih, dan hubungan yang penuh kasih sayang. Peran orangtua adalah dengan
membenahi mental higeine anak.
Terbentuknya kepribadian dan kreativitas anak merupakan modal bagi penyesuaan
diri anak dan lingkungannya, dan tentunya memberikan dampak bagi kesejahteraan
keluarga secara menyeluruh.
Secara sederhana alasan orangtua
memberikan pendidikan kepada anak dapat dilihat dari uraian definisi parenting menurut Pramudianto (2015:11)
yaitu sebagai bentuk kemitraan bersama antara orangtua dan anak untuk
memberdayakan potensi anak dengan menyediakan alat-alat yang diperlukan agar
kehidupannya ke depan menjadi lebih baik. Keduanya menstimulasi dan
mengeksploarasi pemikiran dengan proses kreatif. Makna yang terungkap dari parenting tersebut dapat ditekankan
dalam tiga hal, yaitu (a) kemitraan yang berarti orangtua fokus pada tujuan dan
mendukung anaknya agar dapat mencapai hasil yang lebih baik, (b) memberdayakan
yang berarti orangtua membangun komunikasi dalam bentuk dialog, diskusi atau
tanya jawab untuk merangsang proses berpikir mendalam bersama anak, sehingga
anak mampu menggali pikiran dan “menginspirasi” anak untuk bertindak melalui
kesadarannya, (3) kreatif yang berarti orangtua mampu memenuhi kebutuhan anak
secara kreatif dan memastikan anak melakukan berbagai bentuk tindakan-tindakan
nyata yang pada akhirnya mampu mengoptimalkan potensinya.
Setiap orangtua
memiliki harapan atau keinginan yang terungkap maupun tak terungkap terkait
kehidupan anak-anaknya agar menjadi lebih baik. Utamanya dalam hal pendidikan,
orangtua turut serta secara penuh dalam merencanakan hingga menentukan segala
kebutuhan pendidikan yang terbaik untuk anaknya saat memasuki playgroup, bahkan tak jarang hingga ke
jenjang perguruan tinggi. Perencanaan yang diambilpun biasanya bersifat
periodik. Hal tersebut merupakan contoh dari implementasi orangtua terhadap
pendidikan anak dengan tujuan anaknya dapat bersekolah dengan baik dan
harapan-harapan orangtua terhadap anaknya dapat terwujud. Menurut Usman
(2002:70) implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau
adanya mekanisme suatu sistem. Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi
suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan. Implementasi
keinginan orangtua terhadap pendidikan anak dapat disimpulkan sebagai harapan
orangtua terhadap pendidikan anak dengan segala aktivitas atau mekanisme suatu
sistem yang terencana untuk mencapai suatu tujuan.
Dengan
menyekolahkan anak, maka orangtua mempunyai harapan setelah
anak lulus dari
sekolah mendapat pekerjaan yang layak, dan melanjutkan sekolah yang lebih
tinggi dari pada orangtuanya, menjadi pegawai negeri atau swasta dan mendapat
kehidupan yang lebih baik. Untuk menunjang pendidikan maka persepsi orangtua
tentang pendidikan juga sangat diperlukan. Persepsi atau pandangan orangtua
tentang pendidikan menjadi salah satu aspek penting untuk pendidikan anak yang
baik.
Implementasi
keinginan orangtua terhadap pendidikan anak diwujudkan dalam dua hal yaitu
aspirasi dan partisipasi. Paparan mengenai aspirasi dan partisipasi adalah
sebagai berikut.
1.
Aspirasi
Slameto (2010:182) menjelaskan bahwa, “Aspirasi merupakan harapan atau
keinginan seseorang akan suatu keberhasilan atau prestasi tertentu”. Aspirasi
mengerahkan dan mengarahkan aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal
ini aspirasi orangtua terhadap pendidikan anak mencakup, yaitu dilihat dari
pemilihan pendidikan ( pendidikan formal, informal, dan nonformal ) tapi dalam
pemilihan pendidikan anak difokuskan pada pendidikan formal anak, harapan
orangtua terhadap pendidikan anak, persepsi orangtua terhadap pendidikan,
bagaimana tanggapan orangtua terhadap anak laki – laki dan perempuan.
Ada dua perbedaan aspirasi berdasarkan sifatnya. Hurlock (1999:24) mengemukakan
perbedaan tersebut sebagai berikut.
Aspirasi berdasarkan sifatnya
dibedakan menjadi dua, yaitu (a) aspirasi positif yaitu keinginan meraih
kemampuan. Orang yang memiliki aspirasi positif adalah mereka yang ingin
mendapatkan yang lebih baik atau lebih tinggi daripada keadaannya sekarang dan
(2) aspirasi negatif yaitu keinginan mempertahankan apa yang sudah dicapai saat
ini, tanpa keinginan untuk meningkatkan apa yang sudah dicapainya.
Menurut
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sifat aspirasi yaitu
aspirasi
positif, orangtua yang ingin mendapatkan yang lebih baik atau lebih tinggi
daripada keadaannya sekarang dengan memberikan segala fasilitas untuk memenuhi
kebutuhan pendidikan anak dengan segala upaya agar anaknya berhasil, sedangkan
aspirasi negatif keinginan mempertahankan apa yang sudah dicapai saat ini,
tanpa keinginan untuk meningkatkan apa yang sudah dicapainya.
2.
Partisipasi
Partisipasi orangtua sangat diperlukan dalam menunjang kemajuan dan
pendidikan. Seperti dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 13 Ayat 1 menyatakan bahwa
pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan rumah
tangga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab
bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Partisipasi orangtua dalam
hal pendidikan anak diwujudkan dengan pola asuh yang diterapkan kepada anak.
Pola asuh sendiri dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
a)
Pola asuh otoriter
Orangtua sangat menentukan disiplin dan
menuntut prestasi tinggi pada anaknya. Hanya sayangnya, orangtua tida memberi
kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pendapat, sekaligus menomorduakan
kebutuhan anak.
b)
Pola asuh permisif
Orangtua bersikap demokratis dan penuh
kasih sayang. Di sisi lain, kendali orangtua dan tuntutan prestasi anak rendah.
Anak dibiarkan berbuat sesuakanya tanpa beban kewajiban dan target apapun.
c)
Pola asuh otoritatif
Orangtua memegang kendali yang tinggi pada
anak, menuntut prestasi yang tinggi, tapi tetap diimbangi sikap demokratis dan
kasih sayang yang tinggi pula. Pola asuh ini kuat dalam control, tetapi tetap
memberi tempat untuk pendapat anak. Pola asuh otoritatif akan mendorong
pembentukan sifat kerja keras, disiplin, komitmen, prestasi, memberi dan
realistis pada individu. Sementara sifat yang paling besar kontribusinya bagi
tingginya prestasi anak adalah sifat disiplin. Pola asuh otoritatif bisa
dilakukan sejak dini, seperti dengan memberi anak target belajar yang telah
disepakati.
Di luar pola
asuh tadi, Thomas Gordon (1991) menyebutkan cara mendidik dan mengasuh anak
dengan tiga cara, yaitu (1) pola komunikasi anti-kalah, (2) mendengar secara aktif, dan (3) menyampaikan
pesan diri. Ketiga pola asuh tersebut membutuhkan tips dan trik yang berbeda
dalam pengimplementasiannya. Hal tersebut didasarkan atas karakter anak yang
tidak sama antara satu dengan lainnya. Mengingat pola asuh memberikan dampak
yang besar bagi perkembangan anak, maka setiap orangtua juga perlu belajar cara
mendidik atau mengasuk anak yang baik dan benar.
Daftar
Rujukan
Pramudianto.
2015. Mom & Dad As Super Coaches:
Metode Coaching dalam Dunia Parenting
Rohinah, Noor. M.
2009. Orangtua Bijaksana, Anak Bahagia :
Panduan Bagi Orangtua untuk “Mencetak” Anak Cerdas dan Bahagia: Yogyakarta:
Katahati.
Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2010. Jakarta : Gramedia
No comments:
Post a Comment
Silahkan suarakan idemu setelah membaca tulisan di atas. terimakasih