Sunday, February 10, 2019

Teknik-Teknik Humas Lembaga Pendidikan dan Masyarakat


A.    Teknik-teknik Hubungan Lembaga Pendidikan dan Masyarakat
Teknik hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang kebutuhan pendidikan serta untuk mendorong minat dan kerjasama para anggota masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah menurut Purwanto dalam Benty dan Gunawan (2015:88). Tanpa bantuan dari masyarakat sebuah lembaga pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik dan tanpa adanya program yang baik maka sebuah lembaga pendidikan akan gagal mencapai tujuannya. Oleh sebab itu penggunaan teknik-teknik dalam menjalin hubungan yang baik antara lembaga pendidikan dan masyarakat sangatlah diperlukan bukan hanya untuk kepentingan lembaga pendidikan itu sendiri melainkan juga akan sangat berguna untuk masyarakat.

Agar hubungan sekolah dan orangtua itu dapat ditingkatkan, maka perlu teknik-teknik untuk mencapai sasaran yang akan dicapai. Teknik-teknik tersebut diuraikan secara singkat dan garis-garis besarnya saja, dengan maksud agar para petugas humas sekolah bisa mengembangkan kreatifitasnya. Di bawah ini dibahas beberapa teknik yang dimaksud.
1.         Teknik Pertemuan Kelompok
Teknik pertemuan kelompok dapat berupa diskusi, seminar, lokakarya, sarasehan, rapat dan sebagainya. Orang yang dilibatkan dalam pertemuan kelompok adalah guru, staf tata usaha, tokoh masyarakat, staf dari instansi yang terkait dengan penyelenggaraan program pendidikan, pengguna lulusan, guru atau dosen dari lembaga pendidikan lain, dokter dan lain sebagainya. Ragam unsur yang dilibatkan di dalam kegiatan ini tergantung dari tema yang sedang dibahas.


2.      Teknik Tatap Muka
Menurut Suryosubroto dalam Benty dan Gunawan (2015:90) pertemuan tatap muka antara pihak sekolah dan masyarakat dapat diwujudkan dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah masyarakat (home visit) dan memberikan laporan kepada masyarakat mengenai perkembangan anak didiknya (reporting to parent). Diharapkan dengan teknik ini, akan menciptakan rasa keterbukaan, kebersamaan, serta mempererat tali silaturahmi antara sekolah dan masyarakat.
3.      Observasi dan Partisipasi
Observasi dan partisipasi masyarakat terhadap pelaksanaan pendidikan perlu dilakukan. Sekolah memberi kesempatan kepada masyarakat untuk, mengunjungi, mengobservasi, dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat mengetahui secara langsung hambatan dan faktor pendukung penyelenggaraan pendidikan, mayarakat mengetahui keberhasilan lembaga pendidikan, akhirnya masyarakat diharapkan mau membantu pelaksanaan pendidikan di lembaga pendidikan.
4.      Surat Menyurat dengan Berbagai Pihak yang Terkait dengan Penyelenggaraan Pendidikan
Surat menyurat sudah lazim dilakukan oleh setiap lembaga pendidikan. Selain biaya yang cukup murah, teknik ini  dianggap mampu dilakukan setiap lembaga yang sederhana maupun lembaga yang sudah besar perkembangannya. Selain keempat teknik yang telah diuraikan di atas dapat ditambahkan teknik yang menggunakan alat komunikasi berupa telepon, internet, faksimil, e-mail, dan sebagainya. Selain teknik-teknik yang sudah dipaparkan di atas, pendekatan budaya juga perlu dilakukan, agar masyarakat secara sukarela berkenan membantu penyelenggaraan pendidikan. Untuk itu diperlukan media yang menarik dan mudah dimengerti oleh masyarakat, misalnya lewat iklan di televisi diselingi dengan humor yang segar namun tetap memperhatikan etika pendidikan.
Sementara itu layanan riset pendidikan dan asosiasi nasional kepala pendidikan dasar Alexandria dalam Maisyaroh (2004:25-26) merumuskan berbagai teknik untuk meningkatkan keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan pendidikan. teknik yang dimaksud adalah:
a.         Layanan masyarakat
Pihak lembaga pedidikan mempelajari kebutuhan masyarakat, melihat dan menganalisis apa yang bisa dilakukan lembaga pendidikan untuk memantu memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
b.      Program pemanfaatan alumni sekolah
Para senior sekolah (alumni) dapat dilibatkan dalam kegiatan sekolah, misalnya menjadi pembicara dalam kegiatan seminar di sekolah, keberhasilannya dalam menempuh karir dapat diinformasikan kepada peserta didik agar bersemangat dalam belajar.
c.       Masyarakat sebagai model
Masyarakat di sekitar sekolah diundang kesekolah untuk menjelaskan kepada siswa kiat sukses kehidupannya. Masyarakat menjadi model peserta didik di sekolah terutama masyarakat yang telah berhasil dalam kehidupannya.
d.      Open house
Lembaga pendidikan secara terbuka bersedia diobservasi oleh masyarakat. Masyarakat dapat melihat secara langsung proses pendidikan dan sarana pendidikan di lembaga pendidikan ini.
e.       Pemberian kesempatan kepada masyarakat
Lembaga pendidikan memberi kesempatan kepada masyarakat secara sukarela untuk membantu kegiatan lembaga pendidikan.
f.       Pengiriman pembicaraan
Anggota staf lembaga pedidikan yang berminat diberi kesempatan untuk mempromosikan program dan prestasi lembaga pendidikan ke masyarakat pengguna lulusan atau bisa juga ke calon siswa yang akan memasuki lembaga pendidikan tersebut.
g.      Masyarakat sebagai sumber informasi
Pihak lembaga pendidikan menanyakan kepada anggota masyarakat tentang isu-isu hangat terkait dengan pengembangan lembaga, hasilnya dibuat semacam rekomendasi untuk pengembangan lembaga pendidikan.
h.      Diskusi panel
Siswa, orang tua siswa, staf sekolah, dan pekerja yang lain dengan anggota masyarakat mengadakan pertemuan untuk menindaklanjuti kegiatan lembaga pendidikan agar semua usaha yang telah dilakukan dapat dirasakan manfaatnya oleh semua pihak

Sedangkan Begin dalam Suryosubroto (2004:163) mengemukakan bahwa kegiatan humas (public relations) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) eksternal public relations (humas ke luar); dan (2) internal public relations (humas ke dalam), sehingga hubungan sekolah dengan masyarakat yag merupakan kegiatan humas juga mengenal dengan kegiatan publisitas keluar dan publisits ke dalam. Berikut ini akan diuraikan secara rinci berbagai jenis kegiatan humas yang dipandang perlu dilaksanakan oleh sekolah, baik yang eksternal maupun yang internal.
a.       Kegiatan eksternal
Kegiatan eksternal ini selalu berhubungan atau ditujukan kepada masyarakat diluar warga sekolah. Ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan yakni secara langsung (tatap muka) dan tidak langsung. Kegiatan eksternal tidak langsung adalah kegiatan berhubungan dengan masyarakat melalui perantara media tertentu, sedangkan kegiatan eksternal dapat juga melalui media. Berikut ini akan diuraikan tentang program yang termasuk dalam kegiatan eksternal.
1)      Pameran
Pameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni rupa untuk dikomunikasikan hingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. Secara khusus penyelanggaraan pameran di sekolah memiliki manfaat untuk menumbuhkan dan menambah kemampuan peserta didik  dalam memberi apresiasi terhadap karya orang lain serta menambah wawasan dan kemampuan dalam memberikan evaluasi karya secara lebih objektif.
2)      Seminar dan koferensi
Sebuah pertemuan khusus yang memiliki teknis dan akademis yang tujuannya untuk melakukan studi menyeluruh tentang suatu topik tertentu dengan pemecahan suatu permasalahan yang memerlukan interaksi di antara para peserta seminar yang dibantu oleh seorang guru besar ataupun cendikiawan
3)      Pertemuan dan musyawarah
Pertemuan dan musyawarah dapat diselenggarakan secara intern, misalnya kepala sekolah dengan guru, kepala sekolah dengan pegawai tata usaha, atau kepala sekolah dengan peserta didik. Namun pertemuan dan musyawarah dapat bersifat ekstern dan mengikutsertakan pihak luar, seperti pemuka masyarakat, organisasi sosial, dan orang tua peserta didik, yang bersangkutpaut dengan sekolah. Acara yang dilaksanakan seperti pertemuan dalam rangka penerimaan peserta didik baru dan pembangunan gedung sekolah.
4)      Kunjungan ke rumah (home visit)
Kunjungan ke rumah lazimnya dilakukan oleh para guru dengan berkunjung ke rumah orang tua peserta didik (wali), misalnya untuk mengetahui seluk-beluk peserta didik. Apakah anak tergolong pemalas, sering bolos, atau untuk mengetahui hal hal lainnya. Hal tersebut dapat ditempuh dengan cara kunjungan ke rumah.
5)      Pawai atau karnaval
Sekolah dapat melaksanakan kegiatan pawai atau karnaval. Karnaval adalah sekelompok orang yang diatur sedemikian rupa sehingga tampak serasi dan enak dipandang. Secara langsung atau tidak langsung, sebenarnya karnaval merupakan sebuah pameran, misalnya peserta didik menyumbangkan kelompok drum band dalam karnaval peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Sekolah dengan menampilkan kelompok drum band peserta didik berarti telah berupaya membawa membangun citra dan nama baik sekolah terhadap masyarakat.


b.      Kegiatan internal
Kegiatan internal ini merupakan publisitas ke dalam dan sasarannya tidak lain adalah warga sekolah yang bersangkutan, yakni para guru, tenaga tata usaha dan seluruh siswa. (1) memberi penjelasan tentang kebijakan penyelenggaraan, situasi, dan perkembangan sekolah; (2) menampung saran-saran dan pendapat-pendapat dari warga sekolah dalam hubungannya dengan pembinaan dan pengembangn sekolah; dan (3) dapat memelihara hubungan yang harmonis dan terciptanya kerja sama antara warga sekolah sendiri.
B.     Teknik Media Cetak dan Elektronik dalam Humas
1.      Berikut ini akan diuraikan jenis-jenis dari media cetak yang dapat digunakan oleh sekolah :
a.       Majalah
Suryosubroto (dalam, Benty dan Gunawan, 2015:115) menyatakan penerbitan majalah sangatlah penting, terutama bagi para pegawai di dalam lingkungan suatu lembaga beserta keluarganya dan bagi masyarakat umum. selain itu, isi dari majalah yang diterbitkan haruslah relevan dengan kepentingan pembaca dan harus berdasarkan materi yang layak serta diketahui oleh pembaca. Agar terasa bernilai dan bermanfaat, suatu majalah haruslah dikelola secara profesional . misalnya majalah sekolah.
b.      Surat kabar
Menurut Suryosubroto (dalam, Benty dan Gunawan, 2015:115) mengemukakakan mengenai pengaruh surat kabar terhadap khalayak pembaca sangat sulit dihindari karena hubungan antara surat kabar dan khalayak pembaca semakin erat. Bahkan, dapat dikatakan bahwa surat kabar sudah menjadi kebutuhan untuk setiap orang di khalayak masyarakat.
c.       Iklan
Lembaga pendidikan banyak yang memanfaatkan iklah untuk kepentingan tertentu seperti memperkenalkan lembaga tersebut kepada masyarakat luas. Iklan dapat diasebarkan melalui surat kabar, majalah, radio, televisi, bioskop dan ain sebagainya Suryosubroto (dalam Benty dan Gunawan, 2015: 115). Iklan sangat penting bagi masyarakat yang membutuhkannya. Sektor pendidikan juga sering mengumumkan sesuatu hal melalui iklan, misalnya iklan kursus akuntansi dan kursus bahasa inggris bagi para siswa yang memerlukan hal tersebut.
d.      Buletin
Buletin merupakan salah satu media komunikasi visual yang terdiri atas kumpulan lembaran sehingga berwujud buku, yang dikumpulkan secara teratur dan sistematis oleh suau organisasi atau instansi. Suryosubroto (dalam Benty dan Gunawan, 2015: 115) berpendapan bahwa buletin di sekolah merupakan sebuah terbitan sekolah yang dikelola oleh kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa di sekolah yang bersangkutan. Materi disajikan dalam bentuk buletin, terutama hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan sekolah atau sesuatu yang membawa nama baik sekolah
e.       Stiker dan kalender
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 116) Stiker yang berisikan pesan-pesan singkat dan promosi tentang sekolah dan poster-poster menarik dan lucu merupaka media yang sangat efektif digunakan untuk sebagai media penyebaran informasi. Sedangkan kalender sekolah dibuat untuk media sekolah juga yang jangka waktunya paling lama (12 bulan). Kalender berisi visi, misi, tujuan , dan sasarna sekolah. Selain itu kalender sekolah juga menampilkan berbagai foto kegiatan yang pernah dilakukan oleh sekolah dan juga foto mengenai prestasi yang pernah dijuarai oleh sekolah.
f.       Poster
Media poster sebagai media penyebaran informasi akan sangat efektif untuk mencapai khalayak sasaran melalui distribusi dan penempatan yang sangat fleksibel. Poster juga dapat ditempatkan ditengah-tengah masyarakat seperti pasar, (sebagai tempat pertemuan mingguan masyarakat pedesaan), kantor pelayanan masyarakat (seperti Kantor Kepala Desa, Balai Warga), bahkan dapat juga diberikan secara langsung ke rumah-rumah sasaran, serta tempat-tempat lainnya. Poster menurut Suryosubroto (dalam Benty dan Gunawan, 2015: 116) dapat ditempelkan pada tempat-tempat yang mudah untuk dijangkau oleh msyarakat atau pembaca.
g.         Pamflet
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 116) Pamflet adalah selebaran yang biasanya berisi mengenai sejarah dari lembaga pendidikan  tersebut, staf pengajar, fasilitas yang tersedia, serta kegiatan pembelajaran. Pamflet selain dibagikan kepada wali murid, juga bisa disebarkan kepada msyarakat pada umumnya, dengan bertujuan untuk menumbuhkan pengertian masyarakat juga sekaligus  utnuk promosi lembaga pendidikan tersebut. Kegiatan humas melalui bantuan media yang dilakukan oleh sekolah, berarti sekolah juga ikut dalam memegang fungsi informasi, edukasi, rekreasi, serta persuasi bagi masyarakat pada umumnya.
h.      Papan pengumuman dan reklame
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 116) Papan pengumuman dan reklame biasanya banyak digunakan di kampus-kampus, sekolah-sekolah, dan instansi-instansi. Kejadian sehari-hari, berita penting, foto-foto kejadian dan lain sebagainya ditempelkan pada papan pengumuman dapat dengan mudah diketahui dan dibaca oleh semua orang. Sedangkan reklame sendiri menurut Suryosubroto (dalam Benty dan Gunawan, 2015: 116) merupakan alat atau media yang sangat efisien dalam kegiatan hubungan masyarakat. Dibatas atau di dalam sebuah kota sering terlihat reklame yang berisikan kalimat imbauan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Sekolah juga dapat memanfaatkan papan reklame tersebut sebagai media promosi yang ditujukan kepada masyarakat. Lazimnya papan reklame digunakan oleh sekolah pada saat penerimaan peserta didik baru.
i.        Brosur
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 117) Brosur merupakan terbitan tidak berkala yang dapat terdiri dari satu hingga sejumlah kecil halaman, tidak terkait dengan terbitan lainnya serta selesai dalam sekali terbit. Halamannya sering dijadikan satu ( antara lain dengan stapler, benang, atau kawat), dan juga biasanya memiliki sampul tetapi tidak menggunakan jiid keras. Brosur adalah terbitan tidak berkala yang tidak dijilid keras, lengkap ( dalam satu kali terbitan), serta memiliki paling sedikit 5 halamn tetapi tidak lebih dari 48 halaman, di luar perhitungan dari sampul.
j.        Leaflet
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 117) Leaflet merupakan lembarang kertas yang berukuran kecil serta mengandung pesan tercetak untuk disebarkan kepada khalayak umum sebagai informasi mengenai suatu hal atau peristiwa. Leaflet juga digunakan sekolah untuk mempromosikan sekolah atau memberikan informasi kepada masyarakat dengan cara menyebarkan pesan tercetak kepada masyarakat umumnya.
k.    Siaran pers
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 117) Siaran pers merupakan sebuah tulisan ataupun rekaman yang ditujukan langsung pada media massa dengan tujuan untuk mengumumkan sesuatu yang memiliki nilai berita agar dapat dipublikasikan di media massa. Dalam strukturnya, pada bagain akhir siaran pers biasanya terdapat latar belakang yang mana (dalam Bahasa Inggris ialah Backgrounder), dimana dibagian tersebut berisi uraiang singkat informasi yang bermanfaat sebagai penopang bagi tulisan wartawan. Serta pada umumnya siaran pers dikirimkan via pos, via fax, ataupun dikirimkan melalui surat elektronik kepada para editor dari semua surat kabar, majalah, stasiun-stasiun radio, televisi dan seluruh jaringan lainnya. Terkadang siaran pers juga dikirimkan dalam rangka undangan untuk menghadiri konferensi pers.
l.        Booklet
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 117) Booklet merupakan media komunikasi massa yang memiliki tujuan untuk menyampaikan pesan yang bersifat promosi, anjuran, larangan-larangan  kepada khalayak massa, dan berbentuk cetakan. Sehingga tujuannya adalah agar masyarakat yang sebagai objek memahami dan menuruti pesan yang telah terkandung dalam media komunikasi massa tersebut.
m.    Spanduk
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 117-118) Spanduk merupakan media promosi yang cukup populer untuk saat ini karena selain harganya yang murah juga proses penerjaannya yang relatif cepat. Jaman sekarang ini sudah banyak lembaga yang bergerak di bidang periklanan memiliki mesin digital print sendiri. Sekolah juga dapat menggunakan media spanduk untuk kegiatan promosi sekolah. Spanduk yang dibuat sekolah harus kreatif, memperhatikan proporsional gambar dan warna, sehingga pembaca dapat lebih mudah untuk memahami informasi yang ada dalam spanduk tersebut.
n.          Baliho
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 118) Baliho adalah suatu sarana atau media berpromosi yang mempunyai unsur memberitahukan informasi event atau kegiatan yang memiliki hubungan dengan masyarakat luas, selain itu baliho juga dapat digunakan untuk mengiklankan suatu produk baru. Dikenalnya baliho merupakan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya mesin cetak digital yang semakin canggih. Selain baliho kadang masyarakat memberikan informasinya bisa melali pamflet, brosur, bulletin dan sebagainya.
o.          Banner
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 118) Banner adalah salah satu media promosi yang dicetak dengan print digital yang pada umumnya berbentuk potrait atau vertikal. Banner adalah bentuk penyederhanaan dari baliho sendiri. Sehingga ukuran banner lebih kecil daripada ukuran baliho. Sekolah juga dapat memanfaatkan banner untuk promosi. Banner yang dibuat sekolah haruslah bagus dengan cara memperhatikan proporsional tulisan dan gambar yang ditampilkan dalam banner.
2.      Jenis-jenis Media Elektronik
Selain media cetak, sekolah dalam hal menjalin hubungan dengan masyarakat juga dapat melalui media elektronik. Berikut ini akan diuraikan jenis-jenis media elektronik yang dapat digunakan oleh sekolah:
a.       Televisi
Menurut Suryosubroto (dalam Benty dan Gunawan, 2015 : 118-119) Media televisi (TV) dapat digunakan sebagai sarana pendidikan, penerangan, dan juga hiburan. Keuntungan menggunakan media ini adalah pemirsa cukup tinggal di rumah. Namun, media TV juga mengandung beberapa kelemahan, yakni misalnya belum semua warga memiliki TV, terutama di pelosok.
b.      Radio
Radio merupakan media massa yang penting dan mampumenjangkau publik yang luas. Suryosubroto (dalam Benty dan Gunawan, 2015: 119) berpendapat radio nerupakan ssalah satu media efektif dalam humas karena radio dapat menggugah hati para pendengar di seluruh pelosok tanah air. Oleh karena itu, sekolah dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari media radio tersebut untuk kepentingan publisitas. beberapa hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam penybaran informasi melalui radio, seperti kapan pendaftaran siswa baru, kegiatan pendidikan, dan kapan data sekolah dapat diinformasikan ke luar melalui radio. Beberapa keuntungan dari penyiaran informasi melalui radi diantaranya adalah teks yang diperlukan dapat disiapkan dengan sebaik-baiknya sebelum disiarkan, tidak dipengaruhi faktor  komunikator, seperti sikap dan appearance, dapat dibantu latar belakang musik, dan dapat melalui batas ruang dan waktu serta jangkauan yang luas.
c.       Pers
Nasution (dalam Benty dan Gunawan, 2015: 119) mengemukakan ada banyak teknik yang dapat digunakan sekolah untuk berhubungan dengan pers yakni:
1)      membuat siaran pers.
2)       konferensi pers atau temu pers.
3)      wawancara khusus
4)      perjalanan pers ( pers tour )
5)      sponsor lomba jurnalistik
6)      mengunjungi kantor pers
7)      menjalin hubungan dengan pers dalam bentuk yang lainnya
Seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan teknologi informasi, sekolah tidak hanya menggunakan beberapa jenis media elektronik diatas, namun sekolah juga dapat menggunakan media-media lainnya sperti penggunaan media sosial yang saat ini tidak bisa dilepaskan dari dalam dunia pendidikan. Adapun media sosial yang dapat digunakan oleh sekolah untuk kegiatan humas pendidikan adalah email, facebook, twitter, line, blog, website, blackberry meseenger, dan whatsapp.
C.    Hambatan-hambatan Teknik Hubungan Masyarakat
Grant dan Ray (dalam Suriansyah, 2014:64) menyatakan ada sejumlah hambatan hubungan sekolah yang ditemui dalam membangun keterlibatan keluarga di sekolah mencakup aspek : economics, self efficacy, intergeneration, time demand, cultural norms and value class room culture and past experience.
1.      Economics (lack of money and transportation) atau ekonomi (kekurangan uang dan transportasi).
Orangtua murid/keluarga yang memiliki tingkat ekonomi masih rendah sering disibukkan dengan pekerjaan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kesibukan ini menyebabkan mereka cenderung sulit untuk berpartisipasi/terlibat aktif dalam berbagai kegiatan bersama sekolah.
2.      Self efficacy (lack of confident in ability to help, language consideration) atau kebahagiaan sendiri (kurangnya percaya diri dalam kemampuan untuk membantu, pertimbangan bahasa).
Hambatan ini berkaitan dengan kurangnya percaya diri dari masyarakat atau orangtua murid akan kemampuan untuk membantu sekolah, demikian juga dengan pihak sekolah sendiri sering muncul perasaan ketidak percayaan akan kemampuan untuk mampu membantu orangtua murid dalam mengatasi masalah-masalah pendidikan anak di rumah, akibatnya hubungan kolaboratif tidak dilakukan secara optimal.
3.      Intergenrational faktor (their parents uninvolved) atau faktor antargenerasi (orangtua mereka tidak terlibat).
Faktor ini merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu terciptanya kemitraan dan keterlibatan orangtua murid dan masyarakat terhadap pendidiakn di sekolah. Orangtua murid yang usianya sangat tua atau tokoh masyarakat yang sudah sepuh cenderung tidak mau terlibat banyak dalam berbagai kegiatan kolaboratif, meskipun sebenarnya keterlibatan mereka sangat dibutuhkan oleh sekolah. Sehingga sering sekolah tetap menyantumkan nama tokoh dalam struktur tim atau komite tertentu di sekolah tetapi sebenarnya mereka tidak bisa banyak berbuat di sekolah.
4.      Time demands (work related, child care, elder care) atau faktor tuntutan waktu yaitu yang berhubungan dengan pekerjaan, perawatan anak, perawatan orangtua.
Faktor waktu merupakan salah satu hal yang menjadi pertimbangan bagi masyarakat dan orangtua murid untuk terlibat dalam berbagai kegiatan kolaborasi untuk membantu sekolah. Lebih-lebih masyarakat atau orangtua murid di pedesaan dengan pekerjaan petani, lebih banyak waktu di sawah yang mengakibatkan tidak memiliki waktu yang cukup dalam kegiatan kolaboratif atau partisipasinya. Dlam kondisi seperti ini diperlukan kreativitas guru dan kepala sekolah dalam melakukan manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat.
5.      Culture norms and values (teacher as expert) atau faktor norma dan nilai budaya (guru sama dengan seorang ahli).
Faktor budaya yang melekat dan pandangan yang kuat seakan-akan guru adalah seorang ahli (expert) sehingga memiliki kemampuan untuk mengatasi segala masalah yang ada sudah sangat kuat. Akibatnya, orangtua sering menyerahkan sepenuhnya keberhasilan pendidikan anaknya kepada pihak sekolah, karena pihak sekolah dianggap sebagai pihak yang memiliki kemampuan untuk membentuk anak-anak mereka. Kepala sekolah perlu meyakinkan guru dan orangtua murid serta masyarakat, bahwa sehebat apapun guru dan sekolah tidak akan mampu membuat anak berprestasi luar biasa tanpa dukungan orangtua murid dan masyarakat demikian pula sebaliknya.
6.      Classroom culture (not viewed as welcoming to parents) atau faktor budaya kelas yang tidak terbuka menyambut orangtua murid sebagai tamu.
Keterbukaan sekolah dan kelas untuk partisipasi orangtua murid dan masyarakat masih belum optimal. Ada keraguan pihak guru dan sekolah akan keterlibatan optimal mereka, terkadang muncul ketakutan kalau orangtua murid dan masyarakat melakukan intervensi pada hal-hal teknis yang menjadi kewenangan guru. Sekolah dan guru takut dicampuri tugas dan kewenangannya dan takut sekolah justru menjadi bermasalah dengan keterlibatan orangtua murid dan masyarakat secara optimal di sekolah.
7.      Past experience (negatif experiences with school) atau faktor pengalaman masa lalu (pengalaman negatif dengan sekolah).
Sekolah sering memiliki pengaalaman negatif akibat keterlibatan orangtua murid dan masyarakat terhadap sekolah. Hal ini membawa dan mempengaruhi sekolah untuk enggan berbuat banyak dalam membangun kemitraan yang optimal.


No comments:

Post a Comment

Silahkan suarakan idemu setelah membaca tulisan di atas. terimakasih