A.
Teknik-teknik Hubungan Lembaga Pendidikan dan Masyarakat
Teknik hubungan lembaga pendidikan
dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat
dengan tujuan untuk meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang
kebutuhan pendidikan serta untuk mendorong minat dan kerjasama para anggota
masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah menurut Purwanto dalam Benty dan
Gunawan (2015:88). Tanpa bantuan dari masyarakat sebuah lembaga pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik dan tanpa adanya
program yang baik maka sebuah lembaga pendidikan akan gagal mencapai tujuannya.
Oleh sebab itu penggunaan teknik-teknik dalam menjalin hubungan yang baik
antara lembaga pendidikan dan masyarakat sangatlah diperlukan bukan hanya untuk
kepentingan lembaga pendidikan itu sendiri melainkan juga akan sangat berguna
untuk masyarakat.
Agar hubungan sekolah dan orangtua
itu dapat ditingkatkan, maka perlu teknik-teknik untuk mencapai sasaran yang
akan dicapai. Teknik-teknik tersebut diuraikan secara singkat dan garis-garis
besarnya saja, dengan maksud agar para petugas humas sekolah bisa mengembangkan
kreatifitasnya. Di bawah ini dibahas beberapa teknik yang dimaksud.
1.
Teknik Pertemuan Kelompok
Teknik pertemuan
kelompok dapat berupa diskusi, seminar, lokakarya, sarasehan, rapat dan
sebagainya. Orang yang dilibatkan dalam pertemuan kelompok adalah guru, staf
tata usaha, tokoh masyarakat, staf dari instansi yang terkait dengan
penyelenggaraan program pendidikan, pengguna lulusan, guru atau dosen dari
lembaga pendidikan lain, dokter dan lain sebagainya. Ragam unsur yang
dilibatkan di dalam kegiatan ini tergantung dari tema yang sedang dibahas.
2.
Teknik Tatap Muka
Menurut Suryosubroto
dalam Benty dan Gunawan (2015:90) pertemuan tatap
muka antara pihak sekolah dan masyarakat dapat diwujudkan dengan melakukan
kunjungan ke rumah-rumah masyarakat (home visit) dan memberikan laporan kepada
masyarakat mengenai perkembangan anak didiknya (reporting to parent).
Diharapkan dengan teknik ini, akan menciptakan rasa keterbukaan, kebersamaan,
serta mempererat tali silaturahmi antara sekolah dan masyarakat.
3.
Observasi dan Partisipasi
Observasi dan
partisipasi masyarakat terhadap pelaksanaan pendidikan perlu dilakukan. Sekolah
memberi kesempatan kepada masyarakat untuk, mengunjungi, mengobservasi, dan
berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Melalui kegiatan ini diharapkan
masyarakat mengetahui secara langsung hambatan dan faktor pendukung
penyelenggaraan pendidikan, mayarakat mengetahui keberhasilan lembaga
pendidikan, akhirnya masyarakat diharapkan mau membantu pelaksanaan pendidikan
di lembaga pendidikan.
4.
Surat Menyurat dengan
Berbagai Pihak yang Terkait dengan Penyelenggaraan Pendidikan
Surat menyurat sudah
lazim dilakukan oleh setiap lembaga pendidikan. Selain biaya yang cukup murah,
teknik ini dianggap mampu dilakukan
setiap lembaga yang sederhana maupun lembaga yang sudah besar perkembangannya.
Selain keempat teknik yang telah diuraikan di atas dapat ditambahkan teknik
yang menggunakan alat komunikasi berupa telepon, internet, faksimil, e-mail, dan sebagainya. Selain
teknik-teknik yang sudah dipaparkan di atas, pendekatan budaya juga perlu
dilakukan, agar masyarakat secara sukarela berkenan membantu penyelenggaraan
pendidikan. Untuk itu diperlukan media yang menarik dan mudah dimengerti oleh
masyarakat, misalnya lewat iklan di televisi diselingi dengan humor yang segar
namun tetap memperhatikan etika pendidikan.
Sementara itu layanan riset
pendidikan dan asosiasi nasional kepala pendidikan dasar Alexandria dalam
Maisyaroh (2004:25-26) merumuskan berbagai teknik untuk meningkatkan
keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan pendidikan. teknik yang
dimaksud adalah:
a.
Layanan masyarakat
Pihak lembaga pedidikan mempelajari kebutuhan
masyarakat, melihat dan menganalisis apa yang bisa dilakukan lembaga pendidikan
untuk memantu memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
b. Program
pemanfaatan alumni sekolah
Para senior sekolah (alumni) dapat dilibatkan dalam
kegiatan sekolah, misalnya menjadi pembicara dalam kegiatan seminar di sekolah,
keberhasilannya dalam menempuh karir dapat diinformasikan kepada peserta didik agar
bersemangat dalam belajar.
c. Masyarakat
sebagai model
Masyarakat di sekitar sekolah diundang kesekolah
untuk menjelaskan kepada siswa kiat sukses kehidupannya. Masyarakat menjadi
model peserta didik di sekolah terutama masyarakat yang telah berhasil dalam
kehidupannya.
d. Open
house
Lembaga pendidikan secara terbuka bersedia
diobservasi oleh masyarakat. Masyarakat dapat melihat secara langsung proses
pendidikan dan sarana pendidikan di lembaga pendidikan ini.
e. Pemberian
kesempatan kepada masyarakat
Lembaga pendidikan memberi kesempatan kepada
masyarakat secara sukarela untuk membantu kegiatan lembaga pendidikan.
f. Pengiriman
pembicaraan
Anggota staf lembaga pedidikan yang berminat diberi
kesempatan untuk mempromosikan program dan prestasi lembaga pendidikan ke
masyarakat pengguna lulusan atau bisa juga ke calon siswa yang akan memasuki
lembaga pendidikan tersebut.
g. Masyarakat
sebagai sumber informasi
Pihak lembaga pendidikan menanyakan kepada anggota
masyarakat tentang isu-isu hangat terkait dengan pengembangan lembaga, hasilnya
dibuat semacam rekomendasi untuk pengembangan lembaga pendidikan.
h. Diskusi
panel
Siswa, orang tua siswa, staf sekolah, dan pekerja
yang lain dengan anggota masyarakat mengadakan pertemuan untuk menindaklanjuti
kegiatan lembaga pendidikan agar semua usaha yang telah dilakukan dapat
dirasakan manfaatnya oleh semua pihak
Sedangkan
Begin dalam Suryosubroto (2004:163) mengemukakan bahwa kegiatan humas (public
relations) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) eksternal public relations
(humas ke luar); dan (2) internal public relations (humas ke dalam),
sehingga hubungan sekolah dengan masyarakat yag merupakan kegiatan humas juga
mengenal dengan kegiatan publisitas keluar dan publisits ke dalam. Berikut ini
akan diuraikan secara rinci berbagai jenis kegiatan humas yang dipandang perlu
dilaksanakan oleh sekolah, baik yang eksternal maupun yang internal.
a. Kegiatan
eksternal
Kegiatan eksternal
ini selalu berhubungan atau ditujukan kepada masyarakat diluar warga sekolah.
Ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan yakni secara langsung (tatap muka) dan
tidak langsung. Kegiatan eksternal tidak langsung adalah kegiatan berhubungan
dengan masyarakat melalui perantara media tertentu, sedangkan kegiatan
eksternal dapat juga melalui media. Berikut ini akan diuraikan tentang program
yang termasuk dalam kegiatan eksternal.
1)
Pameran
Pameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni
rupa untuk dikomunikasikan hingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas.
Secara khusus penyelanggaraan pameran di sekolah memiliki manfaat untuk
menumbuhkan dan menambah kemampuan peserta didik dalam memberi apresiasi terhadap karya orang
lain serta menambah wawasan dan kemampuan dalam memberikan evaluasi karya
secara lebih objektif.
2)
Seminar dan koferensi
Sebuah pertemuan khusus yang
memiliki teknis dan akademis yang tujuannya untuk melakukan studi menyeluruh
tentang suatu topik tertentu dengan pemecahan suatu permasalahan yang
memerlukan interaksi di antara para peserta seminar yang dibantu oleh seorang guru besar ataupun cendikiawan
3)
Pertemuan dan
musyawarah
Pertemuan dan musyawarah dapat diselenggarakan
secara intern, misalnya kepala sekolah dengan guru, kepala sekolah dengan
pegawai tata usaha, atau kepala sekolah dengan peserta didik. Namun pertemuan
dan musyawarah dapat bersifat ekstern dan mengikutsertakan pihak luar, seperti
pemuka masyarakat, organisasi sosial, dan orang tua peserta didik, yang bersangkutpaut
dengan sekolah. Acara yang dilaksanakan seperti pertemuan dalam rangka
penerimaan peserta didik baru dan pembangunan gedung sekolah.
4)
Kunjungan ke rumah
(home visit)
Kunjungan ke rumah lazimnya dilakukan oleh para guru
dengan berkunjung ke rumah orang tua peserta didik (wali), misalnya untuk
mengetahui seluk-beluk peserta didik. Apakah anak tergolong pemalas, sering
bolos, atau untuk mengetahui hal hal lainnya. Hal tersebut dapat ditempuh
dengan cara kunjungan ke rumah.
5)
Pawai atau karnaval
Sekolah dapat melaksanakan kegiatan pawai atau
karnaval. Karnaval adalah sekelompok orang yang diatur sedemikian rupa sehingga
tampak serasi dan enak dipandang. Secara langsung atau tidak langsung,
sebenarnya karnaval merupakan sebuah pameran, misalnya peserta didik
menyumbangkan kelompok drum band dalam
karnaval peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Sekolah
dengan menampilkan kelompok drum band peserta
didik berarti telah berupaya membawa membangun citra dan nama baik sekolah
terhadap masyarakat.
b.
Kegiatan
internal
Kegiatan internal
ini merupakan publisitas ke dalam dan sasarannya tidak lain adalah warga
sekolah yang bersangkutan, yakni para guru, tenaga tata usaha dan seluruh
siswa. (1) memberi penjelasan tentang kebijakan penyelenggaraan, situasi, dan
perkembangan sekolah; (2) menampung saran-saran dan pendapat-pendapat dari
warga sekolah dalam hubungannya dengan pembinaan dan pengembangn sekolah; dan
(3) dapat memelihara hubungan yang harmonis dan terciptanya kerja sama antara
warga sekolah sendiri.
B. Teknik Media Cetak dan Elektronik
dalam Humas
1.
Berikut ini akan diuraikan jenis-jenis
dari media cetak yang dapat digunakan oleh sekolah :
a.
Majalah
Suryosubroto (dalam, Benty dan
Gunawan, 2015:115) menyatakan penerbitan majalah sangatlah penting, terutama
bagi para pegawai di dalam lingkungan suatu lembaga beserta keluarganya dan
bagi masyarakat umum. selain itu, isi dari majalah yang diterbitkan haruslah
relevan dengan kepentingan pembaca dan harus berdasarkan materi yang layak
serta diketahui oleh pembaca. Agar terasa bernilai dan bermanfaat, suatu
majalah haruslah dikelola secara profesional . misalnya majalah sekolah.
b.
Surat kabar
Menurut Suryosubroto (dalam, Benty dan Gunawan,
2015:115) mengemukakakan mengenai pengaruh surat kabar terhadap khalayak
pembaca sangat sulit dihindari karena hubungan antara surat kabar dan khalayak
pembaca semakin erat. Bahkan, dapat dikatakan bahwa surat kabar sudah menjadi
kebutuhan untuk setiap orang di khalayak masyarakat.
c.
Iklan
Lembaga pendidikan banyak yang memanfaatkan iklah
untuk kepentingan tertentu seperti memperkenalkan lembaga tersebut kepada
masyarakat luas. Iklan dapat diasebarkan melalui surat kabar, majalah, radio,
televisi, bioskop dan ain sebagainya Suryosubroto (dalam Benty dan Gunawan,
2015: 115). Iklan sangat penting bagi masyarakat yang membutuhkannya. Sektor
pendidikan juga sering mengumumkan sesuatu hal melalui iklan, misalnya iklan
kursus akuntansi dan kursus bahasa inggris bagi para siswa yang memerlukan hal
tersebut.
d.
Buletin
Buletin merupakan salah satu media komunikasi visual
yang terdiri atas kumpulan lembaran sehingga berwujud buku, yang dikumpulkan
secara teratur dan sistematis oleh suau organisasi atau instansi. Suryosubroto
(dalam Benty dan Gunawan, 2015: 115) berpendapan bahwa buletin di sekolah
merupakan sebuah terbitan sekolah yang dikelola oleh kepala sekolah, guru,
karyawan, dan siswa di sekolah yang bersangkutan. Materi disajikan dalam bentuk
buletin, terutama hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan sekolah atau sesuatu
yang membawa nama baik sekolah
e.
Stiker dan kalender
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 116) Stiker yang
berisikan pesan-pesan singkat dan promosi tentang sekolah dan poster-poster
menarik dan lucu merupaka media yang sangat efektif digunakan untuk sebagai
media penyebaran informasi. Sedangkan kalender sekolah dibuat untuk media
sekolah juga yang jangka waktunya paling lama (12 bulan). Kalender berisi visi,
misi, tujuan , dan sasarna sekolah. Selain itu kalender sekolah juga
menampilkan berbagai foto kegiatan yang pernah dilakukan oleh sekolah dan juga
foto mengenai prestasi yang pernah dijuarai oleh sekolah.
f.
Poster
Media poster sebagai media penyebaran informasi akan
sangat efektif untuk mencapai khalayak sasaran melalui distribusi dan
penempatan yang sangat fleksibel. Poster juga dapat ditempatkan ditengah-tengah
masyarakat seperti pasar, (sebagai tempat pertemuan mingguan masyarakat
pedesaan), kantor pelayanan masyarakat (seperti Kantor Kepala Desa, Balai
Warga), bahkan dapat juga diberikan secara langsung ke rumah-rumah sasaran,
serta tempat-tempat lainnya. Poster menurut Suryosubroto (dalam Benty dan
Gunawan, 2015: 116) dapat ditempelkan pada tempat-tempat yang mudah untuk
dijangkau oleh msyarakat atau pembaca.
g.
Pamflet
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 116) Pamflet adalah
selebaran yang biasanya berisi mengenai sejarah dari lembaga pendidikan tersebut, staf pengajar, fasilitas yang
tersedia, serta kegiatan pembelajaran. Pamflet selain dibagikan kepada wali
murid, juga bisa disebarkan kepada msyarakat pada umumnya, dengan bertujuan
untuk menumbuhkan pengertian masyarakat juga sekaligus utnuk promosi lembaga pendidikan tersebut.
Kegiatan humas melalui bantuan media yang dilakukan oleh sekolah, berarti
sekolah juga ikut dalam memegang fungsi informasi, edukasi, rekreasi, serta
persuasi bagi masyarakat pada umumnya.
h.
Papan pengumuman dan reklame
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 116) Papan
pengumuman dan reklame biasanya banyak digunakan di kampus-kampus,
sekolah-sekolah, dan instansi-instansi. Kejadian sehari-hari, berita penting,
foto-foto kejadian dan lain sebagainya ditempelkan pada papan pengumuman dapat
dengan mudah diketahui dan dibaca oleh semua orang. Sedangkan reklame sendiri
menurut Suryosubroto (dalam Benty dan Gunawan, 2015: 116) merupakan alat atau
media yang sangat efisien dalam kegiatan hubungan masyarakat. Dibatas atau di
dalam sebuah kota sering terlihat reklame yang berisikan kalimat imbauan yang
sangat bermanfaat bagi masyarakat. Sekolah juga dapat memanfaatkan papan
reklame tersebut sebagai media promosi yang ditujukan kepada masyarakat.
Lazimnya papan reklame digunakan oleh sekolah pada saat penerimaan peserta
didik baru.
i.
Brosur
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 117) Brosur
merupakan terbitan tidak berkala yang dapat terdiri dari satu hingga sejumlah
kecil halaman, tidak terkait dengan terbitan lainnya serta selesai dalam sekali
terbit. Halamannya sering dijadikan satu ( antara lain dengan stapler, benang,
atau kawat), dan juga biasanya memiliki sampul tetapi tidak menggunakan jiid
keras. Brosur adalah terbitan tidak berkala yang tidak dijilid keras, lengkap (
dalam satu kali terbitan), serta memiliki paling sedikit 5 halamn tetapi tidak
lebih dari 48 halaman, di luar perhitungan dari sampul.
j.
Leaflet
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 117) Leaflet
merupakan lembarang kertas yang berukuran kecil serta mengandung pesan tercetak
untuk disebarkan kepada khalayak umum sebagai informasi mengenai suatu hal atau
peristiwa. Leaflet juga digunakan
sekolah untuk mempromosikan sekolah atau memberikan informasi kepada masyarakat
dengan cara menyebarkan pesan tercetak kepada masyarakat umumnya.
k.
Siaran pers
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 117) Siaran pers
merupakan sebuah tulisan ataupun rekaman yang ditujukan langsung pada media
massa dengan tujuan untuk mengumumkan sesuatu yang memiliki nilai berita agar
dapat dipublikasikan di media massa. Dalam strukturnya, pada bagain akhir
siaran pers biasanya terdapat latar belakang yang mana (dalam Bahasa Inggris
ialah Backgrounder), dimana dibagian
tersebut berisi uraiang singkat informasi yang bermanfaat sebagai penopang bagi
tulisan wartawan. Serta pada umumnya siaran pers dikirimkan via pos, via fax,
ataupun dikirimkan melalui surat elektronik kepada para editor dari semua surat
kabar, majalah, stasiun-stasiun radio, televisi dan seluruh jaringan lainnya.
Terkadang siaran pers juga dikirimkan dalam rangka undangan untuk menghadiri
konferensi pers.
l.
Booklet
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 117) Booklet merupakan media komunikasi massa
yang memiliki tujuan untuk menyampaikan pesan yang bersifat promosi, anjuran,
larangan-larangan kepada khalayak massa,
dan berbentuk cetakan. Sehingga tujuannya adalah agar masyarakat yang sebagai
objek memahami dan menuruti pesan yang telah terkandung dalam media komunikasi
massa tersebut.
m. Spanduk
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 117-118) Spanduk
merupakan media promosi yang cukup populer untuk saat ini karena selain
harganya yang murah juga proses penerjaannya yang relatif cepat. Jaman sekarang
ini sudah banyak lembaga yang bergerak di bidang periklanan memiliki mesin
digital print sendiri. Sekolah juga dapat menggunakan media spanduk untuk
kegiatan promosi sekolah. Spanduk yang dibuat sekolah harus kreatif,
memperhatikan proporsional gambar dan warna, sehingga pembaca dapat lebih mudah
untuk memahami informasi yang ada dalam spanduk tersebut.
n.
Baliho
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 118) Baliho adalah
suatu sarana atau media berpromosi yang mempunyai unsur memberitahukan
informasi event atau kegiatan yang memiliki hubungan dengan masyarakat luas, selain
itu baliho juga dapat digunakan untuk mengiklankan suatu produk baru.
Dikenalnya baliho merupakan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
khususnya mesin cetak digital yang semakin canggih. Selain baliho kadang
masyarakat memberikan informasinya bisa melali pamflet, brosur, bulletin dan
sebagainya.
o.
Banner
Menurut (Benty dan Gunawan, 2015: 118) Banner adalah
salah satu media promosi yang dicetak dengan print digital yang pada umumnya
berbentuk potrait atau vertikal. Banner adalah bentuk penyederhanaan dari
baliho sendiri. Sehingga ukuran banner lebih kecil daripada ukuran baliho.
Sekolah juga dapat memanfaatkan banner untuk promosi. Banner yang dibuat
sekolah haruslah bagus dengan cara memperhatikan proporsional tulisan dan
gambar yang ditampilkan dalam banner.
2. Jenis-jenis
Media Elektronik
Selain media cetak, sekolah dalam hal menjalin
hubungan dengan masyarakat juga dapat melalui media elektronik. Berikut ini
akan diuraikan jenis-jenis media elektronik yang dapat digunakan oleh sekolah:
a. Televisi
Menurut Suryosubroto (dalam Benty dan Gunawan, 2015
: 118-119) Media televisi (TV) dapat digunakan sebagai sarana pendidikan,
penerangan, dan juga hiburan. Keuntungan menggunakan media ini adalah pemirsa
cukup tinggal di rumah. Namun, media TV juga mengandung beberapa kelemahan,
yakni misalnya belum semua warga memiliki TV, terutama di pelosok.
b. Radio
Radio merupakan media massa yang penting dan
mampumenjangkau publik yang luas. Suryosubroto (dalam Benty dan Gunawan, 2015:
119) berpendapat radio nerupakan ssalah satu media efektif dalam humas karena
radio dapat menggugah hati para pendengar di seluruh pelosok tanah air. Oleh
karena itu, sekolah dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari media
radio tersebut untuk kepentingan publisitas. beberapa hal yang penting yang
perlu diperhatikan dalam penybaran informasi melalui radio, seperti kapan
pendaftaran siswa baru, kegiatan pendidikan, dan kapan data sekolah dapat
diinformasikan ke luar melalui radio. Beberapa keuntungan dari penyiaran
informasi melalui radi diantaranya adalah teks yang diperlukan dapat disiapkan
dengan sebaik-baiknya sebelum disiarkan, tidak dipengaruhi faktor komunikator, seperti sikap dan appearance,
dapat dibantu latar belakang musik, dan dapat melalui batas ruang dan waktu
serta jangkauan yang luas.
c.
Pers
Nasution (dalam Benty dan Gunawan, 2015: 119)
mengemukakan ada banyak teknik yang dapat digunakan sekolah untuk berhubungan
dengan pers yakni:
1)
membuat siaran pers.
2)
konferensi pers atau temu pers.
3)
wawancara khusus
4)
perjalanan pers ( pers tour )
5)
sponsor lomba jurnalistik
6)
mengunjungi kantor pers
7)
menjalin hubungan dengan pers dalam
bentuk yang lainnya
Seiring
dengan perkembangan zaman dan perkembangan teknologi informasi, sekolah tidak
hanya menggunakan beberapa jenis media elektronik diatas, namun sekolah juga
dapat menggunakan media-media lainnya sperti penggunaan media sosial yang saat
ini tidak bisa dilepaskan dari dalam dunia pendidikan. Adapun media sosial yang
dapat digunakan oleh sekolah untuk kegiatan humas pendidikan adalah email,
facebook, twitter, line, blog, website, blackberry meseenger, dan whatsapp.
C. Hambatan-hambatan
Teknik Hubungan Masyarakat
Grant dan Ray (dalam Suriansyah,
2014:64) menyatakan ada sejumlah hambatan hubungan sekolah yang ditemui dalam
membangun keterlibatan keluarga di sekolah mencakup aspek : economics, self
efficacy, intergeneration, time demand, cultural norms and value class room
culture and past experience.
1. Economics (lack of money and transportation)
atau ekonomi (kekurangan uang dan transportasi).
Orangtua
murid/keluarga yang memiliki tingkat ekonomi masih rendah sering disibukkan
dengan pekerjaan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kesibukan ini menyebabkan mereka cenderung sulit untuk berpartisipasi/terlibat
aktif dalam berbagai kegiatan bersama sekolah.
2. Self efficacy (lack of confident in ability to
help, language consideration) atau kebahagiaan sendiri (kurangnya percaya
diri dalam kemampuan untuk membantu, pertimbangan bahasa).
Hambatan
ini berkaitan dengan kurangnya percaya diri dari masyarakat atau orangtua murid
akan kemampuan untuk membantu sekolah, demikian juga dengan pihak sekolah
sendiri sering muncul perasaan ketidak percayaan akan kemampuan untuk mampu
membantu orangtua murid dalam mengatasi masalah-masalah pendidikan anak di
rumah, akibatnya hubungan kolaboratif tidak dilakukan secara optimal.
3. Intergenrational faktor (their parents uninvolved)
atau faktor antargenerasi (orangtua mereka tidak terlibat).
Faktor ini
merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu terciptanya kemitraan dan
keterlibatan orangtua murid dan masyarakat terhadap pendidiakn di sekolah.
Orangtua murid yang usianya sangat tua atau tokoh masyarakat yang sudah sepuh
cenderung tidak mau terlibat banyak dalam berbagai kegiatan kolaboratif, meskipun
sebenarnya keterlibatan mereka sangat dibutuhkan oleh sekolah. Sehingga sering
sekolah tetap menyantumkan nama tokoh dalam struktur tim atau komite tertentu
di sekolah tetapi sebenarnya mereka tidak bisa banyak berbuat di sekolah.
4. Time demands (work related, child care, elder
care) atau faktor tuntutan waktu yaitu yang berhubungan dengan pekerjaan,
perawatan anak, perawatan orangtua.
Faktor
waktu merupakan salah satu hal yang menjadi pertimbangan bagi masyarakat dan
orangtua murid untuk terlibat dalam berbagai kegiatan kolaborasi untuk membantu
sekolah. Lebih-lebih masyarakat atau orangtua murid di pedesaan dengan
pekerjaan petani, lebih banyak waktu di sawah yang mengakibatkan tidak memiliki
waktu yang cukup dalam kegiatan kolaboratif atau partisipasinya. Dlam kondisi
seperti ini diperlukan kreativitas guru dan kepala sekolah dalam melakukan
manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat.
5. Culture norms and values (teacher as expert) atau
faktor norma dan nilai budaya (guru sama dengan seorang ahli).
Faktor budaya
yang melekat dan pandangan yang kuat seakan-akan guru adalah seorang ahli (expert)
sehingga memiliki kemampuan untuk mengatasi segala masalah yang ada sudah
sangat kuat. Akibatnya, orangtua sering menyerahkan sepenuhnya keberhasilan
pendidikan anaknya kepada pihak sekolah, karena pihak sekolah dianggap sebagai
pihak yang memiliki kemampuan untuk membentuk anak-anak mereka. Kepala sekolah
perlu meyakinkan guru dan orangtua murid serta masyarakat, bahwa sehebat apapun
guru dan sekolah tidak akan mampu membuat anak berprestasi luar biasa tanpa
dukungan orangtua murid dan masyarakat demikian pula sebaliknya.
6. Classroom culture (not viewed as welcoming to
parents) atau faktor budaya kelas yang tidak terbuka menyambut orangtua
murid sebagai tamu.
Keterbukaan
sekolah dan kelas untuk partisipasi orangtua murid dan masyarakat masih belum
optimal. Ada keraguan pihak guru dan sekolah akan keterlibatan optimal mereka,
terkadang muncul ketakutan kalau orangtua murid dan masyarakat melakukan
intervensi pada hal-hal teknis yang menjadi kewenangan guru. Sekolah dan guru
takut dicampuri tugas dan kewenangannya dan takut sekolah justru menjadi
bermasalah dengan keterlibatan orangtua murid dan masyarakat secara optimal di
sekolah.
7. Past experience (negatif experiences with school)
atau faktor pengalaman masa lalu (pengalaman negatif dengan sekolah).
Sekolah
sering memiliki pengaalaman negatif akibat keterlibatan orangtua murid dan
masyarakat terhadap sekolah. Hal ini membawa dan mempengaruhi sekolah untuk
enggan berbuat banyak dalam membangun kemitraan yang optimal.
No comments:
Post a Comment
Silahkan suarakan idemu setelah membaca tulisan di atas. terimakasih