Monday, February 25, 2019

MANAJEMEN PERUBAHAN DALAM PENGOPTIMALAN PERAN SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN BAKAT DAN MINAT PESERTA DIDIK


MANAJEMEN PERUBAHAN DALAM PENGOPTIMALAN PERAN SEKOLAH UNTUK PENGEMBANGAN BAKAT DAN MINAT PESERTA DIDIK
Oleh : Erviana

Bakat dan minat peserta didik merupakan salah satu hal yang perlu pembinaan secara khusus untuk dikembangkan seoptimal mungkin. Dalam prosesnya, ada banyak pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tak langsung. Lalu seperti apa seharusnya peran sekolah dalam suatu manajemen perubahan dalam pelaksanaan pembinaan pengembangan bakat dan minat peserta didik ? Berikut diuraikan contoh kasus dan proses pengembangannya.
A.    Kasus
Pengembangan bakat dan minat bagi anak sangat penting, terutama oleh orangtua dan pihak sekolah. Sayangnya, terkadang karena berbagai faktor keduanya tidak dapat berperan optimal dalam pengembangan bakat dan minat anak. Hasilnya, banyak anak yang sekedar menjalani rutinitas tanpa antusiasme untuk berinovasi, hanya berorientasi pada how to get a job daripada how to make a job, kualitas dan kuantitas SDM dominan stagnan terkait variasi bakat dan minat yang berhasil dikembangkan secara professional.
B.     Rumusan Rancangan dan Desain Manajemen Perubahan
1.      Assesment
            Assesment merupakan suatu tahap penilaian atas suatu permasalahan yang tengah muncul. Berdasarkan kasus di atas, dapat diambil suatu permasalahan yaitu kurang optimalnya peran sekolah dalam penyaluran bakat dan minat peserta didik. Sehingga perlu adanya solusi yaitu dengan mengidentifikasi minat dan bakat peserta didik serta memberikan ‘wadah’ pada minat dan bakat peserta didik secara intensif bagi tiap peserta didik.
2.      Design
            Design dalam hal ini merupakan suatu rancangan atau pemetaan masalah yang didukung atas analisis data serta akar masalah. Uraian dari keduanya dijelaskan sebagai berikut.
a.   Masalah : Kurang Optimalnya Peran Sekolah dalam  Penyaluran bakat dan minat peserta didik. Berdasarkan pengamatan banyak peserta didik yang selama masa sekolah tidak mendapatkan pelatihan untuk pengembangan bakat dan minatnya secara optimal. Salah satu penyebabnya adalah lembaga sekolah yang kurang memberikan banyak pilihan untuk mengembangkan setiap bakat dan minat pada peserta didik.
b.   Analisis Data : Berdasarkan pengamatan lapangan serta peninjauan mendalam fenomena sosial melalui media literature online (https://www.kompasiana.com/ahaaaayyy/58bde8e040afbd1b1ec33a34/terkuburnya-bakat-anak-indonesia) diperoleh data terkait anak Indonesia yang tidak dapat menyalurkan bakat dan minatnya secara optimal karena berbagai faktor, salah satunya adalah harus bekerja. Setiap tahunnya, 22 ribu anak meninggal dalam kecelakaan terkait kerja, 73 juta anak yang bekerja berusia di bawah 10 tahun, populasi terbanyak anak yang bekerja berada di wilayah Asia Pasifik salah satunya Indonesia. Fakta lain adalah jumlah pekerja anak-anak yang berusia 6-12 tahun (anak usia sekolah) dan 13-16 (usia remaja) sudah mengalami asam garam dunia bekerja. Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyebutkan bahwasanya Pekerja Anak sifatnya merugikan anak baik dari segi fisik, mental, sosial, dan moral. Istilah pekerja anak diperuntukkan untuk anak usia 7-14 tahun. Saat ini, tercatat 215 juta anak di dunia kehilangan masa kanak-kanaknya dan pendidikannya akibat terlibat dalam pekerjaan anak. Sebanyak 126 juta terikat dalam pekerjaan yang membahayakan, seperti pekerja pabrik. Pada tahun 2009, lembaga Understanding Children’s Work (UCW) mencatat ada 2,3 juta anak di Indonesia yang menjadi pekerja yang sebagian besar berada di daerah Indonesia bagian timur. Ternyata, cukup banyak anak-anak di Indonesia yang sudah bekerja di usia dini.
c.    Akar Masalah : Sekolah belum optimal dalam melakukan pelatihan dan pengembangan bakat dan minat peserta didik serta belum mampu memberikan wadah yang tepat bagi minat dan bakat yang mereka inginkan sehingga di masa mendatang, anak tidak memiliki bekal untuk berkarya dan hanya menjadi pekerja semata.
d.   Alternatif Perbaikan
Setelah berhasil menganalisis beberapa hal di atas, berikut merupakan beberapa alternative perbaikan dalam menyikapi masalah yang ada.
1)      Sekolah melakukan identifikasi dini dan serius dalam mengelola berbagai proses dan program pengembangan bakat dan minat peserta didik.
2)      Sekolah menyediakan banyak jenis ekstrakurikuler agar bisa diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya.
3)      Sekolah menyelenggarakan berbagai organisasi pengembangan bakat dan minat yang ditangani oleh pihak berkombeten.
4)      Sekolah memberikan dukungan kepada peserta didik untuk mengembangkan bakat dan minatnya melalui berbagai kegiatan.
3.      Implementasi
            Jika berbagai alternative pemecahan masalah telah dipilih maka langkah selanjutnya adalah implementasi. Berikut adalah implementasi dari alternative secara operasional.
a.    Sekolah menyediakan segala peralatan dan perlengkapan pendeteksi dan pengembangan bakat dan minat peserta didik melalui program berkelanjutan.
b.   Waka kesiswaan dan BK malakukan need assessment kepada peserta didik dan melihat bakat serta minat peserta didik yang paling banyak dimiliki (misalnya, banyak peserta didik yang memiliki bakat dan minat dibidang seni tari) maka, waka kesiswaan pengadakan ekstrakulikuler seni tari. Jika pengadaan ekstrakurikuler tidak dapat meng-cover seluruh bakat dan minat khusus peserta didik, maka sekolah membantu mencarikan wadah berlatih dan berkarya di luar sekolah  melalui koordinasi dengan orangtua.
c.    Waka kesiswaan mencari Pembina ekstrakulikuler yang professioanal untuk melatih peserta didik dalam pengembangan bakat dan minat (waka kesiswaan memiliki kebijakan, apabila ada lomba diusahakan peserta didik yang mengikuti lomba tersebut harus menang minimal juara 3. Jika tidak memenuhi Pembina tersebut akan digantikan, hal ini dilakukan supaya bakat dan minat peserta didik benar-benar dikembangkan).
d.   Kepala sekolah memberikan anggaran untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam mengembangkan bakat dan minat peserta didik (misalnya, untuk mengembangkan bakat dan minat dibidang seni tari. Maka waka sarpras meminta bantuan kepada Pembina ektrakulikuler untuk mendata apa saja yang diperlukan, seperti: ruangan, sound system, kostum, dan lainnya).
e.    Waka kesiswaan selalu memantau kegiatan ektrakulikuler dalam mengembangkan bakat dan minat peserta didik dan waka kesiswaan bekerja sama dengan Pembina ektrakulikuler untuk mencari informasi lomba agar siswa dapat mengikuti, mendapat pengalaman, dan semakin giat berlatih dalam mengembangkan bakat dan minatnya.
f.    Sekolah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak eksternal yang berpotensi mengembangkan berbagai bakat dan minat peserta didik (online dan offline)
4.      Manajemen Perubahan
            Manajemen perubahan menyangkut berbagai hal yang menyangkut beberapa aspek penting dalam mendukung keberhasilan dari proses perencanaan hingga implementasi kegiatan yang telah dilakukan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen perubahan.
a.    Proses
1)   Sekolah melakukan identifikasi dini bakat dan minat peserta didik di awal masuk sekolah melalui :
a)      Pengisian formulir bakat dan minat
b)      Tes bakat dan minat
c)      Tes uji kemenarikan bakat dan minat melalui ahli dan alat deteksi modern.
2)   Sekolah mengklasifikasikan bakat dan minat peserta didik.
3)   Sekolah menyediakan dan mencarikan wadah berkarya sesuai dengan bakat dan minat dengan mengajak kerjasama orangtua dan lembaga relevan.
4)   Sekolah menyediakan mentor bagi tiap-tiap klasifikasi bakat dan minat peserta didik dan memastikan seluruh peserta didik mengikutinya.
5)   Sekolah memberikan latihan intensif dan didukung dengan pengadaan laporan latihan oleh setiap peserta didik sebagai daya dukung kerja program.
6)   Penyaluran peserta didik ke berbagai kegiatan pengembangan bakat dan minat (competition events).
b.   Sumber Daya Manusia (SDM)
        Pengoptimalan peran sekolah dalam penyaluran bakat dan minat peserta didik yaitu tidak hanya guru dalam sekolah saja yang memiliki pengaruh besar terhadap pengembangan bakat dan minat peserta didik tetapi orang tua juga ikut andil dalam hal ini. Dengan demikian dibutuhkan guru siswa berbakat di sekolah, istilah untuk guru siswa berbakat adalah fasilitator karena fasilitator bertanggung jawab dalam akhir proses pembelajaran yaitu menemukan potensi yang ada pada diri peserta didik. Misalnya mayoritas peserta didik banyak yang memiliki bakat menari, maka dalam hal ini guru harus siap dan memiliki bakat untuk menjadi fasilitator bagi peserta didik tersebut untuk terus menyalurkan dan mengembangkan bakat-bakat yang dimiliki. Fasilitator yang dimaksud disini yaitu dapat berupa mencarikan guru yang linear dengan ekstrakurikuler yang ada. Selain itu guru juga dapat mengembangkan kemampuannya melalui pelatihan dalam jabatan (in-service training) seperti kemampuan untuk mempergunakan keterampilan dinamika kelompok, teknik dan strategi yang maju (advanced) dalam mata ajaran tertentu, memberi pelatihan penyidikan, dan memahami ilmu komputer. Hal ini untuk melakukan perubahan yang ada disekolah agar dapat mempermudah guru dalam memahami bakat dan minat peserta didik, serta dapat juga mempermudah peserta didik dalam menyalurkan bakat serta minatnya karena mendapat respon yang baik dari pihak sekolah terutama guru yang dianggapnya lebih dekat.
        Tidak hanya guru, orang tua dalam hal ini juga harus memahami bakat serta minat yang dimiliki oleh anaknya. Setelah orang tua memahami, lantas orang tua mengapresiasikan kepada sekolah agar dalam sekolah tersebut dilakukan program-program yang dapat menyalurkan bakat dan minat yang dimiliki oleh peserta didik. Tidak hanya melakukan, pihak sekolah juga tetap harus mengawasi perkembangan dan kemajuan dari setiap diri peserta didiknya. Agar dapat mengetahui kemajuan diri peserta didik dengan mengikuti program-program sekolah sesuai dengan kemampuan serta keinginannya.
c.    Sarana dan Prasarana
        Pihak sekolah dalam mengoptimalkan bakat dan minat peserta didiknya juga harus mampu memfasilitasi tidak hanya dalam bentuk program-program saja. Tetapi juga sarana dan prasarana yang mendukung dalam kegiatan tersebut. Sarana dan prasarana yang ada harus lengkap sesuai dengan program-program apa saja yang ada. Hal ini akan membuat peserta didik jauh lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan tersebut. Misalnya jika dalam kegiatan ekstrakurikuler penulis, dalam hal ini awalnya sekolah hanya memiliki satu laptop dalam ekstrakurikuler ini. Tetapi dengan semakin banyak minat yang ada pada diri peserta didik untuk mengikuti ekstrakurikuler ini, dalam hal ini pihak sekolah akan menambah laptop dan sarana lain yang dibutuhkan dalam kegiatan tersebut dengan memperhatikan kemajuan teknologi yang ada. Maka hal ini akan membantu peserta didik dalam mengembangkan bakat dan minatnya semakin luas dengan harapan agar peserta didik dapat terus menunjukkan prestasi yang dimiliki dan membahagiakan tidak hanya bagi sekolah tetapi juga bagi keluarganya.



5.      Evaluasi
            Terkait permasalahan kurang optimalnya peran sekolah dalam mengembangkan bakat dan minat peserta didik, maka dari berbagai alternative perbaikan dan manajemen perubahan yang dirancang di atas dapat dilakukan evaluasi terhadap implementasi yang telah dilakukan. Adapun kegiatan evaluasi dapat dilakukan oleh kepala sekolah yang bertanggungjawab atas berbagai program sekolah yang dijalankan terkait pengembangan bakat dan minat. Melalui koordinasi dengan wakakesiswaan dan BK, kepala sekolah memonitor perkembangan dari rangkaian program yang dijalankan melalui observasi, laporan, dan wawancara. Sedangkan evaluasi yang utama dilakukan oleh peserta didik selaku pemakai program atau wadah pengembangann bakat dan minat. Peserta didik melalui laporan pengembangan bakat dan minatnya dapat menyampaikan kritik dan saran konstruktif sebagai bahan evaluasi program lanjutan sekolah. Dari hasil evaluasi nantinya dilakukan tindak lanjut secara berkesinambungan oleh pihak-pihak terkait agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.

No comments:

Post a Comment

Silahkan suarakan idemu setelah membaca tulisan di atas. terimakasih