MANAJEMEN PERUBAHAN DALAM PENGOPTIMALAN PERAN SEKOLAH UNTUK PENGEMBANGAN BAKAT DAN MINAT PESERTA DIDIK
Oleh
: Erviana
Bakat dan minat peserta didik
merupakan salah satu hal yang perlu pembinaan secara khusus untuk dikembangkan
seoptimal mungkin. Dalam prosesnya, ada banyak pihak yang terlibat baik secara
langsung maupun tak langsung. Lalu seperti apa seharusnya peran sekolah dalam
suatu manajemen perubahan dalam pelaksanaan pembinaan pengembangan bakat dan
minat peserta didik ? Berikut diuraikan contoh kasus dan proses
pengembangannya.
A. Kasus
Pengembangan
bakat dan minat bagi anak sangat penting, terutama oleh orangtua dan pihak
sekolah. Sayangnya, terkadang karena berbagai faktor keduanya tidak dapat
berperan optimal dalam pengembangan bakat dan minat anak. Hasilnya, banyak anak
yang sekedar menjalani rutinitas tanpa antusiasme untuk berinovasi, hanya
berorientasi pada how to get a job
daripada how to make a job, kualitas
dan kuantitas SDM dominan stagnan terkait variasi bakat dan minat yang berhasil
dikembangkan secara professional.
B.
Rumusan
Rancangan dan Desain Manajemen Perubahan
1.
Assesment
Assesment
merupakan
suatu tahap penilaian atas suatu permasalahan yang tengah muncul. Berdasarkan kasus
di atas, dapat diambil suatu permasalahan yaitu kurang optimalnya peran sekolah
dalam penyaluran bakat dan minat peserta didik. Sehingga perlu adanya solusi
yaitu dengan mengidentifikasi minat dan bakat peserta didik serta memberikan ‘wadah’
pada minat dan bakat peserta didik secara intensif bagi tiap peserta didik.
2.
Design
Design dalam
hal ini merupakan suatu rancangan atau pemetaan masalah yang didukung atas
analisis data serta akar masalah. Uraian dari keduanya dijelaskan sebagai
berikut.
a. Masalah
: Kurang Optimalnya Peran Sekolah dalam
Penyaluran bakat dan minat peserta didik. Berdasarkan pengamatan banyak
peserta didik yang selama masa sekolah tidak mendapatkan pelatihan untuk
pengembangan bakat dan minatnya secara optimal. Salah satu penyebabnya adalah
lembaga sekolah yang kurang memberikan banyak pilihan untuk mengembangkan
setiap bakat dan minat pada peserta didik.
b.
Analisis
Data : Berdasarkan pengamatan lapangan serta peninjauan
mendalam fenomena sosial melalui media literature online (https://www.kompasiana.com/ahaaaayyy/58bde8e040afbd1b1ec33a34/terkuburnya-bakat-anak-indonesia)
diperoleh data terkait anak Indonesia yang tidak dapat menyalurkan bakat dan
minatnya secara optimal karena berbagai faktor, salah satunya adalah harus
bekerja. Setiap tahunnya, 22 ribu anak meninggal dalam kecelakaan terkait
kerja, 73 juta anak yang bekerja berusia di bawah 10 tahun, populasi terbanyak
anak yang bekerja berada di wilayah Asia Pasifik salah satunya Indonesia. Fakta
lain adalah jumlah pekerja anak-anak yang berusia 6-12 tahun (anak usia
sekolah) dan 13-16 (usia remaja) sudah mengalami asam garam dunia bekerja.
Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyebutkan bahwasanya Pekerja Anak
sifatnya merugikan anak baik dari segi fisik, mental, sosial, dan moral.
Istilah pekerja anak diperuntukkan untuk anak usia 7-14 tahun. Saat ini,
tercatat 215 juta anak di dunia kehilangan masa kanak-kanaknya dan
pendidikannya akibat terlibat dalam pekerjaan anak. Sebanyak 126 juta terikat
dalam pekerjaan yang membahayakan, seperti pekerja pabrik. Pada tahun 2009,
lembaga Understanding Children’s Work
(UCW) mencatat ada 2,3 juta anak di Indonesia yang menjadi pekerja yang
sebagian besar berada di daerah Indonesia bagian timur. Ternyata, cukup banyak
anak-anak di Indonesia yang sudah bekerja di usia dini.
c.
Akar
Masalah : Sekolah belum optimal dalam melakukan pelatihan dan
pengembangan bakat dan minat peserta didik serta belum mampu memberikan wadah
yang tepat bagi minat dan bakat yang mereka inginkan sehingga di masa
mendatang, anak tidak memiliki bekal untuk berkarya dan hanya menjadi pekerja
semata.
d.
Alternatif
Perbaikan
Setelah berhasil menganalisis beberapa hal di atas,
berikut merupakan beberapa alternative perbaikan dalam menyikapi masalah yang
ada.
1) Sekolah
melakukan identifikasi dini dan serius dalam mengelola berbagai proses dan
program pengembangan bakat dan minat peserta didik.
2) Sekolah
menyediakan banyak jenis ekstrakurikuler agar bisa diikuti oleh peserta didik
sesuai dengan bakat dan minatnya.
3) Sekolah
menyelenggarakan berbagai organisasi pengembangan bakat dan minat yang
ditangani oleh pihak berkombeten.
4) Sekolah
memberikan dukungan kepada peserta didik untuk mengembangkan bakat dan minatnya
melalui berbagai kegiatan.
3. Implementasi
Jika
berbagai alternative pemecahan masalah telah dipilih maka langkah selanjutnya adalah
implementasi. Berikut adalah implementasi dari alternative secara operasional.
a.
Sekolah menyediakan segala peralatan dan
perlengkapan pendeteksi dan pengembangan bakat dan minat peserta didik melalui
program berkelanjutan.
b.
Waka kesiswaan dan BK malakukan need assessment kepada peserta didik dan
melihat bakat serta minat peserta didik yang paling banyak dimiliki (misalnya,
banyak peserta didik yang memiliki bakat dan minat dibidang seni tari) maka,
waka kesiswaan pengadakan ekstrakulikuler seni tari. Jika pengadaan
ekstrakurikuler tidak dapat meng-cover seluruh
bakat dan minat khusus peserta didik, maka sekolah membantu mencarikan wadah
berlatih dan berkarya di luar sekolah
melalui koordinasi dengan orangtua.
c.
Waka kesiswaan mencari Pembina
ekstrakulikuler yang professioanal untuk melatih peserta didik dalam
pengembangan bakat dan minat (waka kesiswaan memiliki kebijakan, apabila ada
lomba diusahakan peserta didik yang mengikuti lomba tersebut harus menang
minimal juara 3. Jika tidak memenuhi Pembina tersebut akan digantikan, hal ini
dilakukan supaya bakat dan minat peserta didik benar-benar dikembangkan).
d.
Kepala sekolah memberikan anggaran untuk
melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam mengembangkan bakat dan
minat peserta didik (misalnya, untuk mengembangkan bakat dan minat dibidang
seni tari. Maka waka sarpras meminta bantuan kepada Pembina ektrakulikuler
untuk mendata apa saja yang diperlukan, seperti: ruangan, sound system, kostum,
dan lainnya).
e.
Waka kesiswaan selalu memantau kegiatan
ektrakulikuler dalam mengembangkan bakat dan minat peserta didik dan waka
kesiswaan bekerja sama dengan Pembina ektrakulikuler untuk mencari informasi
lomba agar siswa dapat mengikuti, mendapat pengalaman, dan semakin giat
berlatih dalam mengembangkan bakat dan minatnya.
f.
Sekolah melakukan kerjasama dengan
berbagai pihak eksternal yang berpotensi mengembangkan berbagai bakat dan minat
peserta didik (online dan offline)
4.
Manajemen
Perubahan
Manajemen
perubahan menyangkut berbagai hal yang menyangkut beberapa aspek penting dalam
mendukung keberhasilan dari proses perencanaan hingga implementasi kegiatan
yang telah dilakukan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen
perubahan.
a. Proses
1) Sekolah
melakukan identifikasi dini bakat dan minat peserta didik di awal masuk sekolah
melalui :
a) Pengisian
formulir bakat dan minat
b) Tes
bakat dan minat
c) Tes
uji kemenarikan bakat dan minat melalui ahli dan alat deteksi modern.
2) Sekolah
mengklasifikasikan bakat dan minat peserta didik.
3) Sekolah
menyediakan dan mencarikan wadah berkarya sesuai dengan bakat dan minat dengan
mengajak kerjasama orangtua dan lembaga relevan.
4) Sekolah
menyediakan mentor bagi tiap-tiap klasifikasi bakat dan minat peserta didik dan
memastikan seluruh peserta didik mengikutinya.
5) Sekolah
memberikan latihan intensif dan didukung dengan pengadaan laporan latihan oleh
setiap peserta didik sebagai daya dukung kerja program.
6)
Penyaluran peserta didik ke berbagai
kegiatan pengembangan bakat dan minat (competition
events).
b.
Sumber Daya Manusia (SDM)
Pengoptimalan peran sekolah dalam
penyaluran bakat dan minat peserta didik yaitu tidak hanya guru dalam sekolah
saja yang memiliki pengaruh besar terhadap pengembangan bakat dan minat peserta
didik tetapi orang tua juga ikut andil dalam hal ini. Dengan demikian
dibutuhkan guru siswa berbakat di sekolah, istilah untuk guru siswa berbakat
adalah fasilitator karena fasilitator bertanggung jawab dalam akhir proses
pembelajaran yaitu menemukan potensi yang ada pada diri peserta didik. Misalnya
mayoritas peserta didik banyak yang memiliki bakat menari, maka dalam hal ini
guru harus siap dan memiliki bakat untuk menjadi fasilitator bagi peserta didik
tersebut untuk terus menyalurkan dan mengembangkan bakat-bakat yang dimiliki.
Fasilitator yang dimaksud disini yaitu dapat berupa mencarikan guru yang linear
dengan ekstrakurikuler yang ada. Selain itu guru juga dapat mengembangkan
kemampuannya melalui pelatihan dalam jabatan (in-service training) seperti kemampuan untuk mempergunakan
keterampilan dinamika kelompok, teknik dan strategi yang maju (advanced) dalam mata ajaran tertentu,
memberi pelatihan penyidikan, dan memahami ilmu komputer. Hal ini untuk
melakukan perubahan yang ada disekolah agar dapat mempermudah guru dalam
memahami bakat dan minat peserta didik, serta dapat juga mempermudah peserta
didik dalam menyalurkan bakat serta minatnya karena mendapat respon yang baik
dari pihak sekolah terutama guru yang dianggapnya lebih dekat.
Tidak hanya guru, orang tua dalam hal
ini juga harus memahami bakat serta minat yang dimiliki oleh anaknya. Setelah
orang tua memahami, lantas orang tua mengapresiasikan kepada sekolah agar dalam
sekolah tersebut dilakukan program-program yang dapat menyalurkan bakat dan
minat yang dimiliki oleh peserta didik. Tidak hanya melakukan, pihak sekolah
juga tetap harus mengawasi perkembangan dan kemajuan dari setiap diri peserta
didiknya. Agar dapat mengetahui kemajuan diri peserta didik dengan mengikuti
program-program sekolah sesuai dengan kemampuan serta keinginannya.
c.
Sarana dan Prasarana
Pihak sekolah dalam mengoptimalkan bakat
dan minat peserta didiknya juga harus mampu memfasilitasi tidak hanya dalam
bentuk program-program saja. Tetapi juga sarana dan prasarana yang mendukung
dalam kegiatan tersebut. Sarana dan prasarana yang ada harus lengkap sesuai
dengan program-program apa saja yang ada. Hal ini akan membuat peserta didik
jauh lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan tersebut. Misalnya jika dalam
kegiatan ekstrakurikuler penulis, dalam hal ini awalnya sekolah hanya memiliki
satu laptop dalam ekstrakurikuler ini. Tetapi dengan semakin banyak minat yang
ada pada diri peserta didik untuk mengikuti ekstrakurikuler ini, dalam hal ini
pihak sekolah akan menambah laptop dan sarana lain yang dibutuhkan dalam
kegiatan tersebut dengan memperhatikan kemajuan teknologi yang ada. Maka hal
ini akan membantu peserta didik dalam mengembangkan bakat dan minatnya semakin
luas dengan harapan agar peserta didik dapat terus menunjukkan prestasi yang
dimiliki dan membahagiakan tidak hanya bagi sekolah tetapi juga bagi
keluarganya.
5.
Evaluasi
Terkait
permasalahan kurang optimalnya peran sekolah dalam mengembangkan bakat dan
minat peserta didik, maka dari berbagai alternative perbaikan dan manajemen
perubahan yang dirancang di atas dapat dilakukan evaluasi terhadap implementasi
yang telah dilakukan. Adapun kegiatan evaluasi dapat dilakukan oleh kepala
sekolah yang bertanggungjawab atas berbagai program sekolah yang dijalankan
terkait pengembangan bakat dan minat. Melalui koordinasi dengan wakakesiswaan
dan BK, kepala sekolah memonitor perkembangan dari rangkaian program yang
dijalankan melalui observasi, laporan, dan wawancara. Sedangkan evaluasi yang
utama dilakukan oleh peserta didik selaku pemakai program atau wadah
pengembangann bakat dan minat. Peserta didik melalui laporan pengembangan bakat
dan minatnya dapat menyampaikan kritik dan saran konstruktif sebagai bahan
evaluasi program lanjutan sekolah. Dari hasil evaluasi nantinya dilakukan
tindak lanjut secara berkesinambungan oleh pihak-pihak terkait agar dapat
mencapai tujuan yang telah ditentukan.
No comments:
Post a Comment
Silahkan suarakan idemu setelah membaca tulisan di atas. terimakasih