Wednesday, March 6, 2019

Peran Orangtua Terhadap Pendidikan Anak

Peran Orangtua Terhadap Pendidikan Anak

Oleh : Erviana

Orangtua merupakan orang pertama yang sangat besar peranannya dalam membina pendidikan anak, karena dari pendidikan itu akan menentukan masa depan anak. Peran dan upaya orangtua tersebut harus diperhatikan dengan baik sehingga kepribadian anak dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Upaya mendidik anak sebagai elemen yang membentuk keluarga, masyarakat dan bangsa merupakan hal yang harus dipersiapkan dan dilakukan oleh orangtua. Anak merupakan unit inti yang akan membentuk unsur pertama bagi kerangka umum pembangunan bangsa yang berkembang dan penuh toleransi.
pendidikan anak
Hubungan orangtua dan anak sangat mempengaruhi jiwa anak. Baik buruknya serta bertumbuh tidaknya mental anak sangat tergantung sama orangtua (Safri:1998:15). Dengan demikian jelaslah bahwa orangtua sangat berperan dalam perkembangan anak. Peranan orangtua sangat besar dalam membina, mendidik serta membesarkan si anak hingga menjadi dewasa. Orangtua merupakan orang pertama anak-anak belajar mendapatkan pendidikan, otomatis apa yang didapatkan anak pertama sekali semasa kecilnya akan membekas pada jiwa dan raganya di kemudian hari.
Apabila melihat peranan orangtua sebagai pendidik pertama bagi anak, maka tidak bisa dipisahkan dari peran seorang ibu. Karena ibulah sebagai pendidik yang utama dalam keluarga. Sebab sejak bayi dalam kandungan sampai bayi lahir menjadi balita dan menjadi anak-anak hingga ia dewasa, ibulah yang paling dekat dan paling sering bersama anak.
Perkembangan bayi tak mungkin dapat berlangsung secara normal tanpa adanya intervensi dari luar. Walaupun secara alami ia memiliki potensi dari bawaan. Seandainya dalam pertumbuhan dan perkembangannya hanya diharapkan menjadi normal sekalipun, maka ia masih memerlukan berbagai persyaratan tertentu serta pemeliharaan yang berkesinambungan Jamaluddin (1995:202).
Uraian tersebut dapat pula dikatakan sebagai cerminan dari pentingnya pendidikan keluarga bagi anak-anak yang sedang berkembang. Dalam uraian tentang tingkatan-tingkatan sekolah yang dilalui oleh anak sampai mencapai tingkat kedewasaannya terdapat tingkat permulaan bagi pendidikan anak-anak yang dilakukan dalam keluarga yang disebut Scola Materna (Sekolah Ibu) yang dikenalkan oleh Comernicus.
Apabila dilihat sesuai dengan fungsi dan tugas ibu sebagai anggota keluarga dalam pendidikan anak-anaknya, ibu merupakan sumber dan pemberi rasa kasih sayang, pengasuh dan pemelihara, tempat mencurahkan isi hati, pengatur kehidupan dalam rumah tangga, pembimbing hubungan pribadi, dan pendidik dalam segi emosional. Seorang ayah juga memiliki fungsi yang penting yaitu sebagai sumber kekuasaan dalam keluarga, penghubung intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar, pemberi perasaan aman dalam keluarga, pelindung terhadap ancaman dari luar, hakim atau yang mengadili jika terjadi perselisihan, serta pendidik dalam segi rasional.
Keterangan di atas menunjukkan bahwa tanpa bimbingan dan pengawasan yang teratur, anak akan kehilangan kemampuan untuk berkembang secara normal, walaupun ia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang dengan potensi-potensi lain. Yang dapat menciptakan kebahagiaan bagi anak adalah orangtua yang merasa bahagia dan mampu memahami anaknya dari segala aspek pertumbuhannya, baik jasmani maupun rohani dan sosial dalam semua tingkat umur. Kemudian ia mampu memperlakukan dan mendidik anaknya dengan cara yang akan membawa kepada kebahagiaan dan pertumbuhan yang sehat.
Orangtua memegang peranan yang sangat penting dalam pendidikan dan bimbingan terhadap anak, karena hal itu sangat menentukan perkembangan anak untuk mencapai keberhasilannya. Hal ini juga sangat tergantung pada penerapan pendidikan khususnya agama, serta peranan orangtua sebagai pembuka mata yang pertama bagi anak dalam rumah tangga. Dari sinilah orangtua  berkewajiban  memberi  pendidikan dan pengajaran, terutama pendidikan agama kepada anak-anaknya, guna membentuk sikap dan akhlak mulia, membina kesopanan dan kepribadian yang tinggi pada mereka.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada diri anak harus ditanamkan nilai-nilai yang baik, karena anak sejak lahir telah membawa potensi dan bakat, dan potensi yang ada pada diri anak tersebut harus diarahkan kepada hal-hal yang baik. Pendidikan berawal dari lingkungan keluarga, yaitu kedua orangtua kemudian dilanjutkan dengan lingkungan masyarakat dan pendidikan formal (sekolah). Ketiga sumber pendidikan (tri pusat pendidikan) tersebut harus merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan saling menunjang.
Ketika di rumah orangtua dapat mengajarkan dan menanamkan dasar-dasar keagamaan kepada anak-anaknya, termasuk di dalamnya dasar-dasar bernegara, dan berperilaku baik serta berhubungan sosial lainnya. Anak-anak sebelum dapat memahami sesuatu pengertian kata-kata yang abstrak seperti benar dan salah, baik dan buruk, kecuali pengalaman sehari-hari dari orangtua dan saudara-saudaranya. Di sinilah letak peran orangtua terhadap pendidikan anak yaitu dengan memberikan pemahaman dengan kata-kata, berbuat dan bertindak. Contoh kehidupannya sehari-hari bercorak dari tindak tanduk orangtuanya (Zakiah:1975:42).
Selanjutnya Ibnu Sina (1998:35) mengatakan bahwa, “Anak-anak harus dibiasakan dengan hal-hal terpuji semenjak ia kecil”. Contohnya adalah seperti menyuruh anak untuk shalat, bersikap santun terhadap orangtua, bersikap sopan terhadap orang lain dan berbuat baik terhadap sesama. Pembinaan ini merupakan tanggung jawab sepenuhnya oleh orangtua karena orangtua merupakan orang yang pertama dikenal anak, maka hal ini adalah mutlak dan wajib dikerjakan.
Pendidikan dari lingkungan keluarga (prasekolah) merupakan pendidikan yang pelaksanaannya dilakukan sejak lahir, misalnya mulai dengan mengazankannya, mendidik dan memperlakukannya sesuai dengan ajaran agama. Orangtua sebagai kepala keluarga haruslah berusaha semaksimal mungkin menciptakan situasi rumah tangga yang harmonis, melaksanakan ajaran agama dengan tekun dan disiplin, menempatkan segala tindak tanduknya (gerak-geriknya) yang baik dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan ajaran dan petunjuk agama. Menurut hasil penelitian Umam (1996:59) keharmonisan keluarga ditentukan oleh tiga hal, yaitu masing-masing anggota keluarga meletakkan pada fungsi dan kedudukannya, adanya musyawarah dalam memecahkan masalah, dan adanya kasih sayang antar anggota keluarga keluarga secara timbal balik.
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua bagi anak harus mencakup seluruh aspek kemanusiaan, baik segi kejiwaan, fisik, intelektual dan sosial. Pendidikan tidak boleh hanya menekankan pada satu segi saja dengan mengabaikan yang lain. Berbagai potensi dan kecenderungan fitrah perlu dikembangkan secara bertahap dan berproses menuju kondisi yang lebih baik. Pendidikan prasekolah ini juga dasar dari pada terbentuknya watak dan perilaku anak, yang dilakukan pada masa pendidikan sekolah nanti. Pendidikan sekolah merupakan lanjutan pendidikan yang telah diterima anak di dalam lingkungan keluarga, di mana pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang memberikan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan serta pendidikan moral anak yang pelaksanaannya selalu disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi terpendam dan tersembunyi dalam diri anak. Anak itu laksana lautan dalam yang penuh mutiara dan bermacam-macam ikan, tetapi tidak tampak oleh pandangan mata. Ia masih berada di dasar laut, ia perlu kepada orang yang ahli mengambilnya supaya mutiara itu bisa menjadi perhiasan dan ikan menjadi makanan bagi manusia. Hal ini juga pernah dinyatakan oleh seorang filosof Jerman yaitu Schopenhouer, yang dikenal dengan teori Nativisme. Teori ini menyatakan bahwa: “Bayi lahir dengan pembawaan baik atau pembawaan buruk. Pembawaan yang bersifat kodrati dari kelahiran yang tidak dapat di rubah oleh pengaruh alam sekitar atau pendidikan”. Dengan demikian tiap anak yang lahir telah membawa bakatnya sendiri dari kandungan ibunya berupa potensi baik atau buruk yang akan nampak pada kehidupan anak di masa yang akan datang yang tidak dapat diubah. Anak mempunyai berbagai bakat dan kemampuan yang membutuhkan kreativitas orangtua dalam pembinaannya, agar anak dapat menjadi kebanggaan bagi orangtuanya, masyarakat dan agama.
Pendidikan adalah serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan antara manusia dewasa dengan anak didik secara tatap muka atau dengan perkembangan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap mengembangkan potensinya semaksimal mungkin, agar menjadi manusia yang bertanggung jawab (Zahar:1998:10). Dengan demikian pendidikan berusaha mengadakan perkembangan dan pertumbuhan ke seluruh aspek pribadi individu agar anak-anak dapat berkomunikasi baik dan mempersiapkannya untuk kehidupan yang mulia serta berhasil dalam suatu masyarakat.
Maka dalam hal ini ada beberapa langkah yang mungkin dapat dilaksanakan oleh orangtua dalam peranannya terhadap pendidikann anak adalah sebagai berikut.
1.        Orangtua Sebagai Panutan
Anak selalu becermin dan bersandar kepada lingkungannya yang terdekat. Dalam hal ini tentunya lingkungan keluarga yaitu orangtua. Orangtua harus memberikan teladan yang baik dalam segala aktivitasnya kepada anak. Jadi orangtua adalah sandaran utama anak dalam melakukan segala pekerjaan, kalau baik didikan yang diberikan oleh orangtua, maka baik pula pembawaan anak tersebut. hal tersebut juga berlaku sebaliknya, apabila anak sering dibiarkan atau tidak diurus dengan baik anak akan cenderung menutup diri dan susah beradaptasi.
2.        Orangtua Sebagai Motivator Anak
Anak mempunyai motivasi untuk bergerak dan bertindak, apa bila ada sesuatu dorongan dari orang lain, lebih-lebih dari orangtua. Hal ini sangat diperlukan terhadap anak yang masih memerlukan dorongan. Motivasi bisa membentuk dorongan, pemberian penghargaan, pemberian harapan atau hadiah yang wajar, dalam melakukan aktivitas yang selanjutnya dapat memperoleh prestasi yang memuaskan. Dalam hal ini orangtua sebagai motivator anak harus memberikan dorongan dalam segala aktivitas anak, misalnya dengan menjanjikan kepada anak akan hadiah apabila nanti dia berhasil dalam ujian. Karena dengan motivasi yang diberikan oleh orangtua tersebut anak akan lebih giat lagi dalam belajar.
3.    Orangtua Sebagai Cermin Utama Anak.
Orangtua adalah orang yang sangat dibutuhkan serta diharapkan oleh anak. Karena bagaimanapun mereka merupakan orang yang pertama kali dijadikan sebagai figur dan teladan di rumah tangga. Dan selain itu orangtua juga harus memiliki sifat keterbukaan terhadap anak-anaknya, sehingga dapat terjalin hubungan yang akrab dan harmonis antara orangtua dengan si anak, dan begitu juga sebaliknya. Sehingga nantinya dapat diharapkan oleh anak sebagai tempat berdiskusi dalam berbagai masalah, baik yang berkaitan dengan pendidikan, ataupun yang berkaitan dengan pribadinya. Di sinilah peranan orangtua dalam menentukan akhlak si anak. Kalau orangtua memberikan contoh yang baik, maka anak pun akan mengambil contoh baik tersebut, dan sebaliknya.
4.    Orangtua Sebagai Fasilitator Anak
Pendidikan bagi si anak akan berhasil dan berjalan baik, apabila fasilitas cukup tersedia. Meski demikian, hal tersebut bbukan semata-mata berarti orangtua harus memaksakan dirinya untuk mencapai tersedianya fasilitas tersebut. Akan tetapi, setidaknya orangtua sedapat mungkin memenuhi fasilitas yang diperlukan oleh si anak, dan ini tentu saja ditentukan dengan kondisi ekonomi yang ada.




No comments:

Post a Comment

Silahkan suarakan idemu setelah membaca tulisan di atas. terimakasih