Peran Orangtua Terhadap Pendidikan Anak
Oleh : Erviana
Hubungan
orangtua dan anak sangat mempengaruhi jiwa anak. Baik buruknya serta bertumbuh
tidaknya mental anak sangat tergantung sama orangtua (Safri:1998:15). Dengan
demikian jelaslah bahwa orangtua sangat berperan dalam perkembangan anak.
Peranan orangtua sangat besar dalam membina, mendidik serta membesarkan si anak
hingga menjadi dewasa. Orangtua merupakan orang pertama anak-anak belajar
mendapatkan pendidikan, otomatis apa yang didapatkan anak pertama sekali semasa
kecilnya akan membekas pada jiwa dan raganya di kemudian hari.
Apabila melihat peranan orangtua
sebagai pendidik pertama bagi anak, maka tidak bisa dipisahkan dari peran
seorang ibu. Karena ibulah sebagai pendidik yang utama dalam keluarga. Sebab
sejak bayi dalam kandungan sampai bayi lahir menjadi balita dan menjadi
anak-anak hingga ia dewasa, ibulah yang paling dekat dan paling sering bersama
anak.
Perkembangan bayi tak mungkin dapat
berlangsung secara normal tanpa adanya intervensi dari luar. Walaupun secara
alami ia memiliki potensi dari bawaan. Seandainya dalam pertumbuhan dan
perkembangannya hanya diharapkan menjadi normal sekalipun, maka ia masih
memerlukan berbagai persyaratan tertentu serta pemeliharaan yang
berkesinambungan Jamaluddin (1995:202).
Uraian tersebut dapat pula
dikatakan sebagai cerminan dari pentingnya pendidikan keluarga bagi anak-anak
yang sedang berkembang. Dalam uraian tentang tingkatan-tingkatan sekolah yang
dilalui oleh anak sampai mencapai tingkat kedewasaannya terdapat tingkat
permulaan bagi pendidikan anak-anak yang dilakukan dalam keluarga yang disebut Scola Materna (Sekolah Ibu) yang
dikenalkan oleh Comernicus.
Apabila dilihat sesuai dengan
fungsi dan tugas ibu sebagai anggota keluarga dalam pendidikan anak-anaknya,
ibu merupakan sumber dan pemberi rasa kasih sayang, pengasuh dan pemelihara,
tempat mencurahkan isi hati, pengatur kehidupan dalam rumah tangga, pembimbing
hubungan pribadi, dan pendidik dalam segi emosional. Seorang ayah juga memiliki
fungsi yang penting yaitu sebagai sumber kekuasaan dalam keluarga, penghubung
intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar, pemberi perasaan aman dalam
keluarga, pelindung terhadap ancaman dari luar, hakim atau yang mengadili jika
terjadi perselisihan, serta pendidik dalam segi rasional.
Keterangan di atas menunjukkan
bahwa tanpa bimbingan dan pengawasan yang teratur, anak akan kehilangan
kemampuan untuk berkembang secara normal, walaupun ia memiliki potensi untuk tumbuh
dan berkembang dengan potensi-potensi lain. Yang dapat menciptakan kebahagiaan
bagi anak adalah orangtua yang merasa bahagia dan mampu memahami anaknya dari
segala aspek pertumbuhannya, baik jasmani maupun rohani dan sosial dalam semua
tingkat umur. Kemudian ia mampu memperlakukan dan mendidik anaknya dengan cara
yang akan membawa kepada kebahagiaan dan pertumbuhan yang sehat.
Orangtua
memegang peranan yang sangat penting dalam pendidikan dan bimbingan terhadap
anak, karena hal itu sangat menentukan perkembangan anak untuk mencapai
keberhasilannya. Hal ini juga sangat tergantung pada penerapan pendidikan
khususnya agama, serta peranan orangtua sebagai pembuka mata yang pertama bagi
anak dalam rumah tangga. Dari sinilah orangtua
berkewajiban memberi pendidikan dan pengajaran, terutama pendidikan
agama kepada anak-anaknya, guna membentuk sikap dan akhlak mulia, membina
kesopanan dan kepribadian yang tinggi pada mereka.
Dari uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa pada diri anak harus ditanamkan nilai-nilai yang
baik, karena anak sejak lahir telah membawa potensi dan bakat, dan potensi yang
ada pada diri anak tersebut harus diarahkan kepada hal-hal yang baik.
Pendidikan berawal dari lingkungan keluarga, yaitu kedua orangtua kemudian
dilanjutkan dengan lingkungan masyarakat dan pendidikan formal (sekolah).
Ketiga sumber pendidikan (tri pusat pendidikan) tersebut harus merupakan satu
kesatuan yang saling berhubungan dan saling menunjang.
Ketika di rumah
orangtua dapat mengajarkan dan menanamkan dasar-dasar keagamaan kepada
anak-anaknya, termasuk di dalamnya dasar-dasar bernegara, dan berperilaku baik
serta berhubungan sosial lainnya. Anak-anak sebelum dapat memahami sesuatu
pengertian kata-kata yang abstrak seperti benar dan salah, baik dan buruk,
kecuali pengalaman sehari-hari dari orangtua dan saudara-saudaranya. Di sinilah
letak peran orangtua terhadap pendidikan anak yaitu dengan memberikan pemahaman
dengan kata-kata, berbuat dan bertindak. Contoh kehidupannya sehari-hari
bercorak dari tindak tanduk orangtuanya (Zakiah:1975:42).
Selanjutnya Ibnu
Sina (1998:35) mengatakan bahwa, “Anak-anak harus dibiasakan dengan hal-hal
terpuji semenjak ia kecil”. Contohnya adalah seperti menyuruh anak untuk
shalat, bersikap santun terhadap orangtua, bersikap sopan terhadap orang lain
dan berbuat baik terhadap sesama. Pembinaan ini merupakan tanggung jawab
sepenuhnya oleh orangtua karena orangtua merupakan orang yang pertama dikenal
anak, maka hal ini adalah mutlak dan wajib dikerjakan.
Pendidikan dari
lingkungan keluarga (prasekolah) merupakan pendidikan yang pelaksanaannya
dilakukan sejak lahir, misalnya mulai dengan mengazankannya, mendidik dan
memperlakukannya sesuai dengan ajaran agama. Orangtua sebagai kepala keluarga
haruslah berusaha semaksimal mungkin menciptakan situasi rumah tangga yang
harmonis, melaksanakan ajaran agama dengan tekun dan disiplin, menempatkan
segala tindak tanduknya (gerak-geriknya) yang baik dalam kehidupan sehari-hari,
sesuai dengan ajaran dan petunjuk agama. Menurut hasil penelitian Umam
(1996:59) keharmonisan keluarga ditentukan oleh tiga hal, yaitu masing-masing
anggota keluarga meletakkan pada fungsi dan kedudukannya, adanya musyawarah
dalam memecahkan masalah, dan adanya kasih sayang antar anggota keluarga
keluarga secara timbal balik.
Pendidikan yang diberikan oleh
orangtua bagi anak harus mencakup seluruh aspek kemanusiaan, baik segi
kejiwaan, fisik, intelektual dan sosial. Pendidikan tidak boleh hanya
menekankan pada satu segi saja dengan mengabaikan yang lain. Berbagai potensi
dan kecenderungan fitrah perlu dikembangkan secara bertahap dan berproses
menuju kondisi yang lebih baik. Pendidikan prasekolah ini juga dasar dari pada
terbentuknya watak dan perilaku anak, yang dilakukan pada masa pendidikan
sekolah nanti. Pendidikan sekolah merupakan lanjutan pendidikan yang telah
diterima anak di dalam lingkungan keluarga, di mana pendidikan sekolah
merupakan pendidikan yang memberikan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan
serta pendidikan moral anak yang pelaksanaannya selalu disesuaikan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan.
Pendidikan
berarti pengembangan potensi-potensi terpendam dan tersembunyi dalam diri anak.
Anak itu laksana lautan dalam yang penuh mutiara dan bermacam-macam ikan,
tetapi tidak tampak oleh pandangan mata. Ia masih berada di dasar laut, ia
perlu kepada orang yang ahli mengambilnya supaya mutiara itu bisa menjadi
perhiasan dan ikan menjadi makanan bagi manusia. Hal ini juga pernah dinyatakan
oleh seorang filosof Jerman yaitu Schopenhouer, yang dikenal dengan teori Nativisme.
Teori ini menyatakan bahwa: “Bayi lahir dengan pembawaan baik atau pembawaan
buruk. Pembawaan yang bersifat kodrati dari kelahiran yang tidak dapat di rubah
oleh pengaruh alam sekitar atau pendidikan”. Dengan demikian tiap anak yang
lahir telah membawa bakatnya sendiri dari kandungan ibunya berupa potensi baik
atau buruk yang akan nampak pada kehidupan anak di masa yang akan datang yang
tidak dapat diubah. Anak mempunyai berbagai bakat dan kemampuan yang
membutuhkan kreativitas orangtua dalam pembinaannya, agar anak dapat menjadi
kebanggaan bagi orangtuanya, masyarakat dan agama.
Pendidikan
adalah serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan antara manusia dewasa
dengan anak didik secara tatap muka atau dengan perkembangan media dalam rangka
memberikan bantuan terhadap mengembangkan potensinya semaksimal mungkin, agar
menjadi manusia yang bertanggung jawab (Zahar:1998:10). Dengan demikian
pendidikan berusaha mengadakan perkembangan dan pertumbuhan ke seluruh aspek
pribadi individu agar anak-anak dapat berkomunikasi baik dan mempersiapkannya
untuk kehidupan yang mulia serta berhasil dalam suatu masyarakat.
Maka dalam hal ini ada beberapa
langkah yang mungkin dapat dilaksanakan oleh orangtua dalam peranannya terhadap
pendidikann anak adalah sebagai berikut.
1.
Orangtua Sebagai Panutan
Anak selalu
becermin dan bersandar kepada lingkungannya yang terdekat. Dalam hal ini
tentunya lingkungan keluarga yaitu orangtua. Orangtua harus memberikan teladan
yang baik dalam segala aktivitasnya kepada anak. Jadi orangtua adalah sandaran
utama anak dalam melakukan segala pekerjaan, kalau baik didikan yang diberikan
oleh orangtua, maka baik pula pembawaan anak tersebut. hal tersebut juga berlaku sebaliknya, apabila anak sering dibiarkan atau tidak diurus dengan baik anak akan cenderung menutup diri dan susah beradaptasi.
2.
Orangtua Sebagai Motivator Anak
Anak mempunyai
motivasi untuk bergerak dan bertindak, apa bila ada sesuatu dorongan dari orang
lain, lebih-lebih dari orangtua. Hal ini sangat diperlukan terhadap anak yang
masih memerlukan dorongan. Motivasi bisa membentuk dorongan, pemberian
penghargaan, pemberian harapan atau hadiah yang wajar, dalam melakukan aktivitas
yang selanjutnya dapat memperoleh prestasi yang memuaskan. Dalam hal ini
orangtua sebagai motivator anak harus memberikan dorongan dalam segala
aktivitas anak, misalnya dengan menjanjikan kepada anak akan hadiah apabila
nanti dia berhasil dalam ujian. Karena dengan motivasi yang diberikan oleh
orangtua tersebut anak akan lebih giat lagi dalam belajar.
3. Orangtua Sebagai Cermin Utama Anak.
Orangtua adalah orang yang sangat
dibutuhkan serta diharapkan oleh anak. Karena bagaimanapun mereka merupakan
orang yang pertama kali dijadikan sebagai figur dan teladan di rumah tangga.
Dan selain itu orangtua juga harus memiliki sifat keterbukaan terhadap
anak-anaknya, sehingga dapat terjalin hubungan yang akrab dan harmonis antara
orangtua dengan si anak, dan begitu juga sebaliknya. Sehingga nantinya dapat
diharapkan oleh anak sebagai tempat berdiskusi dalam berbagai masalah, baik
yang berkaitan dengan pendidikan, ataupun yang berkaitan dengan pribadinya. Di
sinilah peranan orangtua dalam menentukan akhlak si anak. Kalau orangtua
memberikan contoh yang baik, maka anak pun akan mengambil contoh baik tersebut,
dan sebaliknya.
4. Orangtua Sebagai Fasilitator Anak
Pendidikan bagi si anak akan
berhasil dan berjalan baik, apabila fasilitas cukup tersedia. Meski demikian, hal tersebut bbukan semata-mata
berarti orangtua harus memaksakan dirinya untuk mencapai tersedianya fasilitas
tersebut. Akan tetapi, setidaknya orangtua sedapat mungkin memenuhi fasilitas
yang diperlukan oleh si anak, dan ini tentu saja ditentukan dengan kondisi
ekonomi yang ada.

No comments:
Post a Comment
Silahkan suarakan idemu setelah membaca tulisan di atas. terimakasih