Wednesday, March 6, 2019

KEINGINAN ORANGTUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK

Parenting Dalam Pendidikan Anak

Erviana
Universitas Negeri Malang
E-mail: jasminerviana@gmail.com


Abstrak: Setiap orangtua mendambakan memiliki anak yang pintar, berprestasi, dan berakhlak mulia. Keinginan setiap orangtua tersebut diimplementasikan melalui aspirasi dan partisipasi. Pendidikan selain merupakan kebutuhan primer bagi anak yang harus dipenuhi setiap orangtua, pendidikan juga merupakan sarana bagi anak dalam menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki anak. Pada proses tersebut peran orangtua terutama dalam lingkungan keluarga sangat penting dalam mendidik dan membimbing anak dalam rangka mencapai keberhasilan anak.

Kata kunci: pendidikan anak, lingkungan keluarga, aspirasi dan partisipasi orangtua, peran orangtua

Pendidikan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kepribadian anak menjadi individu yang berhasil dalam rangka mencapai cita-cita maupun memenuhi harapan atau keinginan setiap orangtua. Namun, banyak orangtua yang sekadar memberikan pendidikan secara formal melalui lembaga pendidikan tanpa memerhatikan kebutuhan pendidikan anak dalam lingkungan keluarga, sehingga banyak anak berprestasi dalam bidang akademik namun akhlaknya tidak cukup baik, bahkan ada beberapa anak yang tidak pandai dalam bidang akademik dan tidak pula berakhlak mulia. Hal tersebut tentu saja tidak dapat dibiarkan, mengingat peran orangtua adalah memberikan pendidikan terhadap anak secara seimbang antara ilmu dan akhlak agar anak dapat menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal.

BAHASAN
Anak adalah investasi masa depan orangtua, sehingga anak harus memiliki kompetensi dan kepribadian yang baik. Orangtua yang baik tentu akan mengusahakan segala keperluan anak dalam rangka memberikan bantuan terhadap anak untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin agar menjadi manusia yang bertanggung jawab (Idris,1998:10).
Pendidikan menjadi hal utama yang dirasa mampu menjadikan anak berhasil memenuhi keinginan orangtua atau cita-cita anak. Pendidikan anak dimulai dari pendidikan keluarga yang dilakukan oleh orangtua. Pendidikan yang diberikan orangtua pada anak menurut  Mulyono (2003:15) terdiri dari empat unsur utama, yaitu penjelasan terhadap fitrah, penumbuhan potensi dan menyimpan seluruhnya, pengarahan fitrah dan potensi tersebut untuk kebaikan, dan kesehatan yang sesuai dengannya dan penataan dalam amaliah pendidikan. Dari uraian tersebut diperkuat dengan pendapat Sina (1978:35) bahwa pada diri anak harus ditanamkan nilai-nilai yang baik karena anak sejak lahir telah membawa potensi dan bakat yang harus diarahkan kepada hal-hal baik.
Comenius (1592-1670) adalah seorang ahli didaktik terkenal mengemukakan betapa pentingnya pendidikan keluarga bagi anak-anak. Perkembangan anak yang sekalipun dilahirkan secara normal dan memiliki potensi bawaan yang bagus, seandainya dalam pertumbuhan dan perekembangannya anak tersebut tidak memiliki hambatan, tetap saja anak masih memerlukan berbagai persyaratan tertentu serta pemeliharaan yang berkesinambungan agar dapat menjadi utuh atau berhasil mencapai tujuan. Persyaratan dan pemeliharaan tersebut secara utama merupakan kewajiban orangtua dalam mendukung pendidikan anak untuk berhasil. Dukungan tersebut sekaligus menjadi cerminan dari keinginan orangtua atas keberhasilan anak.
sumber : Google.com
Keinginan orangtua tidak akan terealisasi dengan baik pula apabila tidak diimplementasikan secara nyata. Implementasi keinginan orangtua terhadap pendidikan anak tersebut diwujudkan dalam dua hal, yaitu aspirasi dan partisipasi. Aspirasi merupakan harapan atau keinginan seseorang akan suatu keberhasilan atau prestasi tertentu (Slameto,2010:182). Aspirasi positif orangtua sangat diharapkan daripada aspirasi negatif lantaran aspirasi positif orangtua memiliki keinginan untuk terus tumbuh lebih tinggi daripada keadaan yang ada saat ini, sedangkan aspirasi negatif adalah sebaliknya. Aspirasi tentu membutuhkan partisipasi agar dapat mewujudkan keinginan yang sudah ada. Partisipasi orangtua dalam hal pendidikan anak diwujudkan melalui pola asuh yang diterapkan pada anak. Menurut Hurlock (1999:67) pola asuh orangtua kepada anak dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu pola asuh otoriter yang berarti orangtua menerapkan kedisiplinan dan menuntut prestasi tinggi pada anak, pola asuh permisif merupakan sikap orangtua yang demokratis dan penuh kasih sayang lalu menjadikan anak bersikap manja, dan pola asuh otoritatif merupakan sikap orangtua yang memegang kendali secara penuh pada anak dengan menuntut prestasi tinggi pada anak dan diimbangi dengan sikap demokratis serta kasih sayang yang tinggi pula. Dari uraian tersebut, pola asuh otoritatif adalah pola asuh yang diharapkan dapat dilakukan oleh setiap orangtua kepada anak, sebab pola asuh otoritatif menyeimbangkan antara kewajiban orangtua dengan hak anak. Pada pola asuh otoritatif orangtua memang bersikap keras, disiplin, dan secara ketat mengendalikan anak agar anak dapat fokus terhadap tujuan-tujuan yang telah ditentukan, namun orangtua juga bersikap bijak dengan tetap memberikan kesempatan pada anak untuk berpendapat. Pola asuh otoritatif akan mendorong terbentuknya sifat-sifat anak, seperti kerja keras, disiplin, berkomitmen, tidak mudah menyerah, selalu berprestasi, dan tetap lemah lembut dengan kasih sayang.
Beriringan dengan pola asuh di atas, langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam peranannya terhadap pendidikan anak, yaitu (1) orangtua sebagai panutan, (2) orangtua sebagai motivator anak, (2) orangtua sebagai cermin utama anak, (3) orangtua sebagai fasilitator anak. Adanya variasi peran orangtua akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak. Dampak positif tersebut akan menjadikan kepribadian anak menjadi lebih baik, sehingga dapat dijadikan sebagai modal meraih keberhasilan dalam prestasi belajar atau proses pendidikan. Adanya komunikasi yang baik antara orangtua dan anak, timbul saling pengertian, dan adanya keharmonisan dalam keluarga merupakan manfaat dari keseriusan orangtua membangun ‘image’ atau peran dalam mendidik anak.
PENUTUP
Simpulan
Anak adalah investasi masa depan orangtua, sehingga anak harus memiliki kompetensi dan kepribadian yang baik. Usaha untuk menjadikan anak berkompetensi dan berkepribadian baik dilakukan orangtua melalui pendidikan. Pendidikan yang diberikan oleh orangtua bagi anak dapat dikatakan harus mencakup seluruh aspek kemanusiaan, baik segi kejiwaan, fisik, intelektual, dan sosial. Pendidikan tidak boleh hanya menekankan pada satu segi saja kemudian mengabaikan aspek yang lain. Berbagai potensi dan kecenderungan fitrah perlu dikembangkan secara seimbang antara proses dan hasil menuju kondisi lebih baik. Hal tersebut merupakan hasil dari perwujudan aspirasi dan partisipasi orangtua dalam rangka mengimplementasikan keinginan orangtua terhadap pendidikan anak.
Orangtua dalam pendidikan anak tidak semata-mata hanya memberikan instruksi ataupun contoh. Orangtua memiliki peran besar dalam perkembangan anak dan pendidikan anak. Peran orangtua tersebut antara lain orangtua sebagai motivator, orangtua sebagai panutan, orangtua sebagai cermin utama anak, dan orangtua sebagai fasilitator.
Saran
Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh pendidikan pertama yaitu pendidikan dalam lingkungan keluarga, sehingga perlu dikombinasikan antara aspirasi positif orangtua dengan pola asuh otoritatif agar keharmonisan hubungan orangtua dengan anak dapat tercapai dan anak dapat mengembangkan bakat atau potensinya secara optimal karena adanya dukungan orangtua. Dukungan setiap orangtua memang berbeda-beda, namun setiap orangtua memiliki latar belakang keinginan yang sama terhadap pendidikan anaknya yaitu keinginan agar anak mendapatkan pendidikan dan sukses pada masa mendatang. Peran orangtua begitu banyak dalam mendampingi proses belajar anak, sehingga pengetahuan orangtua juga harus ditingkatkan. Pengetahuan orangtua yang didapat dari berbagai sumber akan memudahkan orangtua mengatasi permasalahan pendidikan anak terutama cara mengimplementasikan keinginan orangtua terhadap pendidikan anak secara tepat.

DAFTAR RUJUKAN
Hurlock, Elizabeth B. 1999. Perkembangan Anak.  Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Sina, Ibnu. Majalah Santunan. 1978. No. 24. Hlm. 35.
Idris, Zahar. 1998. Dasar-Dasar Pendidikan. Bandung: Angkasa Raya.
Mulyono, Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

No comments:

Post a Comment

Silahkan suarakan idemu setelah membaca tulisan di atas. terimakasih